Berita Semarang
Pungli Parkir Kembali Terjadi di Kota Semarang, Pengamat : Walikota Harus Segera Rapatkan Jajarannya
Pungutan tarif parkir tak sesuai aturan di Kawasan Kota Lama Semarang, yang terjadi beberapa waktu lalu tak hanya ditanggapi oleh masyarakat umum.
Penulis: budi susanto | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pungutan tarif parkir tak sesuai aturan di Kawasan Kota Lama Semarang, yang terjadi beberapa waktu lalu tak hanya ditanggapi oleh masyarakat umum.
Beberapa pengamat juga bersuara dengan adanya tindakan pungli tersebut, seperti Theresia Tarigan pengamat Transportasi Kota Semarang.
Theresia bahkan menyampaikan, Walikota Semarang harus segera bertindak dengan mengumpulkan beberapa pihak.
"Walikota harus mengumpulkan beberapa pihak, seperti Organda dan lintas sektoral, hingga PHRI sampai komunitas yang fokus ke Kawasan Kota Lama Semarang," paparnya, Selasa (1/2/2022).
Dilanjutkannya, dengan mengumpulkan semua pihak yang terkait dengan Kawasan Kota Lama Semarang, Pemkot bisa mencari solusi maupun membuat Perda terkait parkir.
"Lokasi dan penetapan besaran tarif parkir juga harus ditentukan dan disetujui semua pihak, untuk itu harus ada pertemuan," ujarnya.
Ia menyebutkan, feeder Trans Semarang bisa jadi pilihan untuk mengurai permasalahan terkait parkir di kawasan wisata seperti di Kota Lama Semarang.
"Feeder Trans Semarang yang sedikit sekali penumpangnya bisa dialihkan ke koridor baru, misal dari parkiran bus pariwisata di luar Kawasan Kota Lama membawa penumpabgnya ke Kota Lama atau kawasan wisata lainya," terangnya.
Theresia mengatakan beberapa waktu lalu, sejumlah pihak mengusulkan setiap akhir pekan, Balai Kota Semarang dijadikan tempat parkir wisatawan.
"Dari sana wisatawan bisa dijemput feeder, kan kantor libur jadi Balai Kota Semarang bisa jadi tempat parkir mobil dan motor hingga bus pariwisata," jelasnya.
Meski demikian, ia menyebutkan, ide tersebut mungkin tidak didukung pebisnis parkir dan pihak Pemkot Semarang.
"Tapi kalo mau maju pemerintah harus mengatur berbagai hal termasuk pengelolaan parkir untuk memajukan dunia pariwisata, demi kepentingan yang luas bukan pertimbangan lainnya," ucapnya.
Theresia juga menilai, tidak adanya angkutan umum yang melintas di Kota Lama Semarang menandakan kemunduran dalam hal pengelolaan transportasi umum.
"Sekarang semua angkutan umum yang lewat Jalan Letjend Suprapto digeser dekat Miramar, hal itu sebuah kemunduran," tuturnya.
Ia juga menyarankan, Pemkot mengambil contoh daerah tetangga seperti di Kabupaten Semarang maupun Demak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Unggahan-akun-facebook-Thahjrang.jpg)