Kamis, 7 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Mimbar Jumat

MIMBAR JUMAT Usman Roin : Kampus dan Uswah Literasi

MEMBACA-haruslah menjadi spirit warga kampus. Jangan sampai di kampus, membaca menjadi sesuatu yang langka bin asing

Tayang:
tribun jateng
Usman Roin 

Oleh: Usman Roin

Dosen di Universitas NU Sunan Giri Bojonegoro

MEMBACA-haruslah menjadi spirit warga kampus. Jangan sampai di kampus, membaca menjadi sesuatu yang langka bin asing, segelintir saja yang hobi, hingga nihil gerakan literasi baik dosen, tendik, dan mahasiswa.

Bicara dosen, sebagaimana UU 14 Tahun 2005, pasal 3, adalah tenaga profesional pada jenjang pendidikan tinggi yang mafhum disebut PT. Tentu, update keilmuannya perlu selalu dilakukan dosen melaui aktifitas membaca berbuah transformasi pembelajaran yang sarat akan makna.

Penegasan tersebut, sejalan dengan pemikiran apik Prof. Dr. Oemar Hamalik (2008:122), bila ada dosen cinta meng-update keilmuannya -upgrade spesialisasi pengetahuan serta ditopang dengan pengetahuan umum- kala pembelajaran berlangsung akan terasa beda, unik, dan menjadi motivasi mahasiswa kembali bergairah belajar.

Harapan di atas, tentu akan terwujud bila dosen banyak membaca. Terlebih, membaca bagi dosen harus menjadi kebiasaan. Dosen perlu sadar, pengetahuan yang akan diajarkan memiliki relevansi terhadap kedangkalan hingga kedalaman pemahaman capaian akhir keilmuan mahasiswa.

Selain itu, dosen yang sregep atau demen membaca, tentu akan memiliki kekayaan pengetahuan yang melimpah ruah.

Di samping itu, ia juga terbuka dengan pengetahuan yang belum dimiliki dan dikuasai.

Bahkan, rasa haus new knowledge menjadi ciri khasnya. Oleh karenanya, semangat melakuan akselerasi pengetahuan melalui aktifitas membaca, menelaah, meneliti, perlu menjadi spirit para dosen, agar lekas setara antar sesama pendidik dan mampu terdepan menjawab kontekstualisasi zaman.

Cinta membaca

Tentu, prototipe dosen yang doyan membaca, keberadaannya akan menginspirasi, dan menjadi uswah mahasiswanya untuk cinta membaca.

Apalagi, dalam pandangan Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA., (2010:18), dosen yang demikian mampu menjadi penyadar dan pencerah secara batiniah, kemudian memunculkan kesadaran berubahnya orang lain -mahasiswa dan civitas kampus- berpredikat baik sebagai wujud hasil pengetahuan yang diserap dari membaca.

Terkait membaca sendiri, terminologi kekinian bagi penulis tidaklah sebatas pada teks kertas jilid berbentuk buku, jurnal, diktat, dan lainnya. Tetapi, bisa pula berbentuk digital mulai dari e-book, e-jurnal, e-paper koran, e-majalah, dan lain sebagainya.

Pada paper teks, saat di kampus, kebiasaan membaca, meneliti, bisa dilakukan melalui perpustakaan.

Terlebih, membaca di perpustakaan itu memiliki aura berbeda, yakni semangat membaca satu buku, memunculkan semangat mengumpulkan, membandingkan dengan buku-buku pengarang berbeda yang berjejer di rak. Apalagi di barat, menurut Prof. Masdar Hilmy (2016:14), perpustakaan telah dijadikan center of excellence, tempat yang menarik minat mahasiswa dari learning-oriented kepada research-oriented.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved