Berita Kudus
Brand Kudus Kota Empat Negeri Dibedah, Ini Pendapat Para Ahli
HM Hartopo berharap Kudus menjadi daya tarik para investor dan mampu mendulang keuntungan di bidang pariwisata.
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: deni setiawan
Sebenarnya kondisi ini tidak hanya dialami Kudus.
Semarang misalnya, juga mengalami perjalanan yang kemudian komposisi penduduknya terdiri atas beberapa etnis.
Narasumber berikutnya Abdul Jalil, akademisi IAIN Kudus mengatakan, branding Kota Empat Negeri karena ada bermacam etnis ketika ditarik benang merah sejarah baginya sudah selesai.
Tidak ada perdebatan.
Memang dalam pejalananannya Kudus dihuni oleh etnis Jawa, Arab, China, kemudian Eropa dari kolonial.
Namun, kata dia, itu menjadi cukup aneh ketika satu di antara maksud dicanangkannya brand tersebut yakni untuk mendongkrak potensi wisata.
Baca juga: Bupati Haryanto Sebut Penutupan Kawasan Lorong Indah Jadi Bagian Melindungi Kaum Hawa di Pati
Baca juga: Dinkes Blora Tunggu Hasil 10 Sampel Pasien, Pasca Santri Ponpes Insan Gemilang Positif Covid-19
Sebab, dia mengatakan, data peziarah yang datang ke kompleks Masjid Menara Kudus setiap bulan itu tidak kurang dari 250 ribu orang.
Itu sebenarnya potensi besar.
Harusnya pemerintah mampu untuk mengelola.
Kemudian, potensi lainnya yakni pondok pesantren.
Di Kudus katakan tidak kurang ada 20 ribu santri.
Mereka datang dari berbagai daerah.
"Setiap bulan santri itu pastu dijenguk orangtuanya."
"Saat dijenguk pasti diajak belanja."
"Itu juga potensi," kata dia kepada Tribunjateng.com, Selasa (8/2/2022).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bupti-kudus-hartopo-raih-penghargaan3.jpg)