Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

1.000 Ton Per Bulan, Produksi Gula Kelapa Kudus ‎Tembus Pasar Ekspor

‎Produk dari CV Hasil Barokah Mandiri tersebut memiliki daya tarik karena indeks glisemik yang lebih rendah sehingga cocok bagi penderita diabetes.

Penulis: raka f pujangga | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/Raka F Pujangga
Staf Ekspor-Impor? CV Hasil Barokah Mandiri, M Ali Mahmud menunjukkan produk gula kelapa di sela-sela pameran UKM, Pijar Park, Dawe, Kudus. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Gula kelapa (coconut sugar) Rainafa yang diproduksi di Kabupaten Kudus sejak tahun 2018 sudah mampu merambah pasar ekspor.

‎Produk dari CV Hasil Barokah Mandiri tersebut memiliki daya tarik karena indeks glisemik yang lebih rendah sehingga cocok bagi penderita diabetes.

Staf Ekspor-Impor‎ CV Hasil Barokah Mandiri, M Ali Mahmud menceritakan, gula kelapa produksi asli Kudus itu sudah berdiri sejak 2016.

Selama dua tahun awal memenuhi pasar domestik,‎ hingga akhirnya bisa tembus beberapa negara di antaranya ‎Australia, Kanada, Amerika, Turki, dan Singapura.

"Kelebihannya gula ini lebih sehat, penderita diabetes pun bisa. Karena indeks glisemiknya 35 persen, lebih rendah daripada gula tebu sebesar 75 persen," jelas dia, di sela-sela pameran di Pijar Park Kudus, Rabu kemarin.

Dalam sebulan, rata-rata produksinya mencapai 1.000 ton. Sepanjang 2021 lalu, pihaknya sudah melakukan pengiriman sebanyak 34 kali.

"Tahun 2022 ini juga sudah ada pemesanan New York dan Turki bulan Januari, dan bulan Februari ini ke Sydney," kata dia.

Harga jualnya, mulai dari Rp 25 ribu untuk kemasan 300 gram, Rp 35 ribu kemasan 500 gram dan Rp 52 ribu kemasan satu kilogram.

"Untuk lokal dan luar negeri harganya sama," katanya.

Perbedaannya, konsumen dari luar negeri harus membayar biaya pengiriman yang saat ini terbilang cukup mahal.


Pasalnya terdapat kenaikan tarif pengiriman ke luar negeri yang semula 5.000 dolar Amerika ‎menjadi 23 ribu dolar Amerika.


"Kendalanya harga di luar negeri pengirimanya mahal. Jadi terkadang ada pembeli yang cocok sama harga, tetap rate tarif shipment-nya nggak masuk," ujar dia.


Sehingga pihaknya berharap ada kebijakan pemerintah daerah untuk membantu pengiriman ke luar negeri.

"Mudah-mudahan ada bantuan agar pengiriman ke luar negeri lebih mudah," ujarnya

Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan bahan baku tidak kesulitan, karena telah memberdayakan petani binaan di Purwokerto dan Cilacap.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved