Menjelang Invasi Ukraina, Rusia Tak Peduli Sanksi Barat

Rusia disebut telah menerima begitu banyak sanksi, dan justru memberikan efek positif

Editor: Vito
Citra satelit © 2022 Maxar Technologies / AFP
Gambar satelit selebaran yang dirilis oleh Maxar Technologies menunjukkan artileri tank dan tenda di area pelatihan Pogonov di Voronez, Rusia, 15 Januari 2022. 

TRIBUNJATENG.COM, STOCKHOLM - Invasi Rusia atas Ukraina diyakini bakal segera terjadi, meski Barat telah mengeluarkan berbagai ancaman. Sejauh ini, dialog dan negosiasi yang digelar untuk meredam konflik kedua negara terus menemui jalan buntu.

Namun, Rusia rupanya tidak mempedulikan sanksi dari Barat jika menyerang Ukraina. Hal tersebut disampaikan Duta Besar Rusia untuk Swedia, Viktor Tatarintsev, kepada sebuah surat kabar Swedia, Aftonbladet.

“Maafkan bahasa saya, tapi kami tidak peduli dengan semua sanksi mereka,” kata Tatarintsev, kepada Aftonbladet, dalam sebuah wawancara.

Menurut dia, Rusia telah menerima begitu banyak sanksi, dan justru memberikan efek positif pada perekonomian dan pertanian Moskow, sebagaimana dilansir AFP, Minggu (13/2).

“Kami lebih mandiri dan mampu meningkatkan ekspor kami. Kami tidak punya keju Italia atau Swiss, tetapi kami belajar membuat keju Rusia yang sama baiknya dengan resep Italia dan Swiss. Sanksi baru tidak ada yang positif, tetapi tidak seburuk yang dibuat Barat,” ucap Tatarintsev.

Ia juga menuding bahwa Barat tidak memahami mentalitas Rusia. “Semakin kuat Barat menekan Rusia, semakin kuat respons Rusia,” ujarnya.

Komentar diplomat itu muncul saat Barat khawatir Moskow mempersiapkan invasi ke Ukraina. Sejauh ini, Rusia dilaporkan telah mengepung Ukraina di dekat perbatasan dengan lebih dari 100.000 tentara.

Washington telah memperingatkan bahwa invasi habis-habisan dari Rusia ke Ukraina dapat dimulai kapan saja. Namun di sisi lain, Tatarintsev bersikeras bahwa Moskow berusaha menghindari perang.

“Itu adalah keinginan paling tulus dari kepemimpinan politik kami (menghindari perang-Red). Hal terakhir yang diinginkan orang di Rusia adalah perang,” ucap Tatarintsev.

Surat kabar Washington Post melaporkan bahwa evaluasi atas intelijen baru dan bukti di lapangan yang dirilis Jumat (11/2) lalu, menunjukkan bahwa Rusia sepenuhnya siap untuk melancarkan serangan dengan 130.000 tentara, dan persenjataan utama di sekitar Ukraina di tiga sisi.

Rusia juga telah melakukan latihan militer di Rusia selatan, Laut Hitam, dan Belarusia, yang berbatasan dengan Ukraina di utara. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved