Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Rusia Diperkirakan Invasi ke Ukraina pada Rabu (16/2), Warga Khawatir

Badan itelijen AS menyadap komunikasi Rusia yang mengungkapkan rincian spesifik dan mengkhawatirkan atas serangan gencar ke Ukraina

Editor: Vito
ISTIMEWA/YouTube via Tribunnews
Ratusan ribu pasukan Rusia yang sudah siap perang berada di perbatasan Ukraina, akhir pekan lalu. Mobilisasi militer Rusia di tiga lokasi perbatasan Ukraina memunculkan spekulasi invasi segera terjadi, dapat dilakukan kapan saja, dalam waktu sangat cepat. 

TRIBUNJATENG.COM, KIEV - Invasi Rusia atas Ukraina diperkirakan bakal dimulai pada hari ini, Rabu (16/2), menurut laporan badan intelijen AS.

Badan itu telah menyadap komunikasi Rusia yang mengungkapkan rincian spesifik dan mengkhawatirkan atas serangan gencar yang kemungkinan akan menyebabkan jatuhnya korban.

Peringatan ini adalah yang terbaru dan yang paling dramatis, dalam serangkaian laporan yang datang dari Washington. Laporan biasanya diikuti oleh laporan dari London, yang meyakinkan bahwa serangan akan segera terjadi.

Sejak muncul peringatan tersebut, dalam waktu 48 jam, banyak negara asing, termasuk AS dan Inggris, meminta warga negara mereka untuk pergi dan melucuti sebagian besar staf kedutaan mereka. Tim pelatihan militer untuk pasukan Ukraina, termasuk Inggris dan AS, sudah mulai ditarik.

Seperti diketahui, Rusia terus menambah pasukan militernya di sekitar Ukraina. Eskalasi semacam itu semakin meningkatkan kekhawatiran adanya invasi yang akan segera terjadi.

Presiden Rusia, Vladimir Putin berulang kali mengatakan tidak memiliki rencana untuk melakukan invasi. Namun, seperti dilansir New York Times, dengan sekitar 130.000 tentara Rusia di perbatasan utara, selatan, dan timur Ukraina, para pemimpin di negara-negara Barat menyebut bahwa invasi dapat terjadi kapan saja.

Sejumlah warga pun merasakan kekhawatiran soal perang. "Apakah akan ada bom yang jatuh di sini dalam waktu 2 hari? Apakah benar-benar akan ada perang yang nyata?" ucap seorang warga, Andriy Kostenko, kepada The Independent.

Andriy adalah perwira muda yang mempersingkat cuti di Kiev untuk segera kembali ke timur, ke garis depan di Donbas.

"Saya sangat berharap tidak ada perang. Tapi itu mungkin terjadi, dan saya ingin menikmati setiap momen ini," ujarnya, saat sedang bersantai di sebuah taman bersama istri dan ketiga anaknya.

"Entah kapan bisa ke sini lagi. Tentu saja kami akan melakukan tugas kami, tetapi kami semua khawatir dengan keluarga kami, dan kami berdoa agar mereka baik-baik saja," tambahnya.

"Kami sangat berterima kasih kepada Inggris karena mengirimi kami senjata, karena secara umum sangat mendukung. Sedih melihat teman-teman pergi, tetapi pada akhirnya kami orang Ukraina selalu tahu bahwa kami harus berjuang untuk diri kami sendiri," katanya.

Ia lalu merentangkan tangannya di udara. "Lihat sekelilingmu, lihat langit, lihat sinar matahari, biru dan kuning, warna bendera nasional kita, siapa tahu, mungkin itu pertanda bahwa semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya," tukasnya.

Sementara, banyak juga warga yang pindah ke bagian tengah negeri. Anna Nazarenko dan keluarganya menutup apartemen mereka di dekat pusat kota, dan berangkat untuk tinggal bersama kerabat di Lviv, di barat negara itu.

"Tempat kami di sini cukup dekat dengan beberapa gedung pemerintah, jadi kami pikir tidak aman untuk tinggal," ucap guru berusia 48 tahun itu.

Beberapa orang memiliki cara lain untuk melarikan diri. Lebih dari 20 pesawat sewaan dan jet pribadi, yang membawa oligarki, pengusaha kaya, dan keluarga mereka meninggalkan Kiev pada hari Minggu (13/2).

Masih banyak lagi penerbangan yang dipesan di tengah kekhawatiran bahwa wilayah udara akan segera ditutup. Namun, moda transportasi seperti itu berada di luar jangkauan bagi sebagian besar orang. (Tribunnews)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved