Berita Kendal
Lapak Tempe dan Tahu di Pasar Tradisional Kendal Tutup
Pedagang tempe dan tahu di Pasar Tradisional Kendal merealisasikan aksi mogok jualan.
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: sujarwo
Misal, berjualan bakwan goreng, ketela goreng, dan beberapa jenis gorengan lainnya selain tempe dan tahu.
"Mulai hari ini, saya siasati jualannya mendowan, karena lebih sedikit menggunakan tempenya. Harga juga enggak naik. Protes pelanggannya, kalau harga naik. Ya saya sesuaikan saja dengan yang saya dapat di pedagang," ujar dia.
Hal yang sama juga terjadi di Pasar Pagi Kaliwungu dan Pasar Sidorejo Brangsong.
Pedagang tempe dan tahu tidak berangkat karena tidak ada stok barang dari perajin.
Aksi ini dipicu kenaikan harga kedelai sehingga produsen tempe dan tahu menghentikan produksinya sementara waktu, agar tidak merugi.
Masiah, konsumen tempe mengaku kebingungan untuk mendapatkan tempe.
Dia sudah berkeliling di beberapa pasar tradisional untuk membeli tempe, namun tak kunjung menemukan.
"Mau enggak mau, akhirnya saya beli menu lain. Seperti daging, telur, ikan yang harganya lebih mahal," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti) Harum Kabupaten Kendal, Rifai mengatakan, pihaknya sudah melakukan sidak ke semua pasar tradisional untuk memastikan komitmen bersama para pedagang tempe dan tahu.
Termasuk sidak ke perajin-perajin tempe dan tahu atas aksi protes kepada pemerintah ini.
Kata dia, ada 400 - 500 perajin tempe di Kendal yang kelimpungan dengan tingginya harga kedelai.
Ia berharap, pemerintah mendengar keluh kesah perajin tempe dan tahu melalu aksi ini.
Sehingga ada langkah strategis dari pemerintah supaya harga kedelai bisa stabil kembali.
"Aksi ini sebenarnya sebagai wadah perajin dan pedagang tempe tahu supaya tidak menggelar aksi di jalanan. Kami harap, pemerintah mendengar ini supaya membantu kesulitan para perajin tempe dan tahu," harapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/lapak-tempe-kosong1.jpg)