Rabu, 15 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Guru Berkarya

Role Playing Meningkatkan Keaktifan Dan Berpikir Kritis Belajar Sejarah

Belajar sejarah banyak hal yang harus di pelajari, mulai dari peristiwa yang terjadi pada masa lampau hingga yang terjadi pada masa kini.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Rudi Purwana SPd, Guru SMAN 2 Banguntapan Kab Bantul 

Oleh: Rudi Purwana SPd, Guru SMAN 2 Banguntapan Kab Bantul

BELAJAR sejarah banyak hal yang harus di pelajari, mulai dari peristiwa yang terjadi pada masa lampau hingga yang terjadi pada masa kini. Peristiwa tersebut barkaitan dengan waktu, tokoh, teori dan sebab akibat. Dengan banyaknya materi yang harus disampaikan dan siswa yang menerima merasa senang tidak mengantuk apalagi mengalami kesulitan dalam belajar sejarah. Hal ini diperlukan pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, menggali potensi siswa, pembelajaran aktif menuntut peran serta siswa secara utuh dalam proses pembelajaran agar siswa mendapatkan pengalaman belajar dan mengeksplorasi kemampuan yang dimiliki.

Pembelajaran sejarah akan lebih manarik jika dikemas dalam pembelajaran yang dapat memecahkan masalah, membantu siswa untuk berpikir kritis dalam mencari jawaban atas permasalahan yang ada serta mempermudah siswa menerapkan materi yang dipelajari lebih mendalam dalam kehidupan nyata. Dengan cara ini diharapkan akan meningkatkan keaktifan dan kemapuan berpikir kritis siswa yang pada akhirnya dapat tercapainya prestasi belajar sesuai dengan standar ketuntasan.

Pembelajaran Sejarah di SMAN 2 Banguntapan Kelas 12 IPS pada materi Respon Internasional terhadap Kemerdekaan Republik Indonesia, pada dasarnya sudah ada unsur keaktifan siswa. Para siswa sudah berani bertanya maupun menjawab pertanyaan baik pertanyaan dari teman sendiri atau yang disampaikan oleh guru. Akan tetapi keatifan siswa ini belum mendalam artinya ketika mengikuti proses pembelajaran siswa dapat aktif mengikuti namun setelah selesai dan ketemu diminggu berikutnya siswa sudah lupa akan materi yang disampaikan, hal ini juga berakibat pada hasil belajar menjadi rendah.

Kondisi yang demikian membutuhkan metode, strategi dan media pembelajaran yang dapat mengaktifan dan mengembangkan berpikir kritis dalam belajar sejarah, penulis mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif model Role Playing untuk menyampaikan materi Respon Internasional terhadap Kemerdekaan Republik Indonesia. Model pembelajaran Role Playing merupakan model pembelajaran kooperatif yang sederhana yang melibatkan siswa secara aktif dan berfikir kritis.

Miftahul Huda (2019:209) mengutarakan bahwa Role Playing merupakan suatu cara penguasaan bahan -bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imaginasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankan diri sebagai tokoh hidup atau benda mati. Dalam Role Playing juga menekankan sifat sosial pembelajaran, dan melihat perilaku kerjasama siswa untuk merangsang baik sacara sosial maupun intelektual.  Role Playing di desain untuk meningkatkan kemampuan kerjasama.

Strategi Role Playing juga diorganisasikan berdasarkan kelompok-kelompok siswa yang heterogen. Masing-masing kelompok memperagakan /menampilkan skenario yang telah disiapkan guru. Siswa diberi kebebasan berimproviasasi, namun masih dalam batas batas skenario dari guru. Tahap awal dalam model ini guru menyiapkan skenario yang akan ditampilkan dan menunjuk beberapa siswa untuk mempelajarinya. Kemudian membentuk kelompok masing-masing beranggotakan 5 siswa, guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

Tahap selanjutnya guru memanggil siswa yang sudah ditunjuk untuk memainkan peran / skenario yang sudah disiapkan. Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan. Setelah selesai ditampilkan, masing -masing siswa diberikan lembar kerja untuk memberikan penilaian atas penampilan masing-masing kelompok. Setiap kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya. Pada tahap akhir guru memberikan kesimpulan dan evaluasi secara umum.

Model pembelajaran Role Playing ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun dengan diterapkannya model pembelajaran ini siswa Kelas 12 SMA Negeri 2 Banguntapan dapat meningkatkan keaktifan dan berpikir kritis dalam belajar sejarah. Memberikan kesan pembelajaran yang kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa, tettunya akan berdampak pada hasil belajar siswa yang meningkat. (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved