Stikes Telogorejo Semarang

Obat dan Puasa

Saat puasa kadang halangan berupa sakit datang tak terduga, ada keraguan saat harus minum atau menggunakan obat.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Apt Yovita Dwi Arini MSc, Dosen Prodi S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang 

Oleh: Apt Yovita Dwi Arini MSc, Dosen Prodi S1 Farmasi STIKES Telogorejo Semarang

PERCAKAPAN berikut ini sering kita dengar pada bulan Ramadhan. Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa mengalami gangguan kesehatan namun kebingungan dalam menggunakan obat.

A: Kamu puasa hari ini?
B: Iya saya berpuasa,. Kenapa?
A: Mata kamu merah, iritasi ya?
B: Sepertinya iritasi, tadi pagi terasa gatal, sempat dikucek sih, ingin pakai obat tetes mata takut puasanya batal. Apalagi kalau pakai tetes mata bisa setiap 4 jam kita meneteskan obat.
A: Aku juga kurang paham, boleh atau tidak ya pakai tetes mata.

Saat puasa, kadang halangan berupa sakit datang tak terduga. Ada keraguan saat harus minum atau menggunakan obat. Pertanyaan yang sering muncul ketika akan menggunakan obat saat berpuasa adalah sebagai berikut :

- Kapan waktu yang tepat untuk meminum atau menggunakan obat selama berpuasa?
- Apakah obat yang saya minum akan membatalkan puasa?
- Apakah ada obat yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang diderita tetapi tidak membatalkan puasa?

Berikut ini adalah penjelasan tentang beberapa hal mengenai penggunaan obat pada saat orang berpuasa yang semoga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat tersebut, sehingga orang dapat menggunakan obat dengan benar dan menghasilkan efek terapi yang diharapkan.

Waktu minum obat selama berpuasa
Perubahan jadwal minum obat dan dosis obat yang diberikan dapat mempengaruhi efek terapi obat. Agar tetap didapatkan efek obat yang optimal, perlu kehati-hatian jika diperlukan perubahan. Berikut panduan dalam meminum obat yang tepat saat puasa:

1. Minum obat 1 kali sehari
Obat yang diminum 1 kali sehari, dapat diminum saat pagi ketika sahur atau malam hari ketika berbuka puasa.

2. Minum obat 2 kali sehari
Obat yang diminum dua kali sehari, dapat diminum saat sahur dan saat berbuka. Ketentuan ini sebenarnya tidak jauh beda dengan aturan minum obat 2 kali sehari pada hari biasa.

3. Minum obat 3 kali sehari
Jika awalnya kita bisa leluasa meminum obat selama 24 jam dengan interval 8 jam sekali, sementara pada saat puasa kita hanya punya waktu minum obat selama 10,5 jam dari buka puasa sampai sahur. Disarankan untuk konsultasi terlebih dahulu kepada dokter atau apoteker apakah ada alternatif obat sejenis yang bisa diminum 1 atau 2 kali sehari. Anda juga dapat menanyakan mengenai ketersediaan obat yang sama tapi memiliki sistem pelepasan obat secara lepas lambat (pelepasan perlahan) atau memiliki aktivitas obat yang panjang atau pelepasannya terkontrol. Jika tetap harus diminum sesuai aturan 3 kali sehari, obat tersebut tetap dapat diminum sesuai aturan awal, namun dengan pembagian jam yang berbeda, yaitu diberi rentang setiap 5 jam. Untuk obat yang diminum tiga kali sehari, maka dapat diminum saat sahur, saat berbuka dan tengah malam sebelum tidur sekitar jam 10-11 malam.

4. Minum obat 4 kali sehari
Sama halnya dengan minum obat 3 kali sehari, anjuran minum obat 4 kali sehari pada saat puasa menjadi sedikit berbeda dengan hari biasa. Jika pada hari biasa, obat ini bisa diminum sebanyak 4 kali dengan interval 6 jam sekali, pada saat puasa tentu tidak bisa demikian karena tak boleh makan dan minum pada siang hari. Obat yang diminum 4 kali sehari pada saat puasa dapat diminum dengan interval waktu 4 jam sekali, yaitu jam 04.00 pagi (saat sahur), jam 06.00 sore saat berbuka puasa, jam 10.00 malam dan jam 01.00 dini hari. Obat yang tidak disarankan pemberiannya sampai 4 kali sehari selama berpuasa adalah jenis antibiotik

5. Minum obat sebelum dan sesudah makan
Pada saat puasa, untuk obat yang dikehendaki diminum sebelum makan, dapat diminum 30 menit sebelum makan sahur atau 30 menit sebelum makan saat berbuka puasa. Begitu juga untuk obat yang diminum setelah makan. Obat ini dapat diminum 5 sampai 10 menit setelah makan sahur atau berbuka puasa. Apabila ada obat yang dikehendaki diminum tengah malam sesudah makan, maka dapat mengisi perut terlebih dahulu dengan cemilan seperti roti terlebih dahulu. Beberapa orang sering kali takut menggunakan obat karena mengira dapat membatalkan puasa. Padahal tidak semua obat dapat berimplikasi tersebut. Obat-obatan yang digunakan untuk obat luar dan obat yang tidak masuk melalui saluran cerna tidaklah akan membatalkan puasa.

Penggunaan obat yang tidak membatalkan puasa
Ternyata tidak semua obat bisa membatalkan puasa. Kini Anda tak perlu resah, sebagai pegangan, Anda bisa merujuk rilis dari Kementerian Kesehatan tentang jenis obat yang tidak membatalkan puasa. Rilis tersebut merujuk pada hasil konferensi An Islamic View of Certain Contemporary Medical Issues, yang digelar di Maroko pada tahun 1997. Berikut adalah bentuk-bentuk sediaan obat yang dapat digunakan saat berpuasa, seperti dilansir dari Kementerian Kesehatan:

1. Obat yang diserap melalui kulit seperti salep, krim, plester, dan koyo,
Obat-obatan tersebut digunakan secara lokal, dan kerap diindikasikan dipakai pada bagian yang sakit saja. Obat tersebut bekerja/ diserap tubuh melalui kulit dan tidak sampai ke saluran pencernaan, karena efek yang ditimbulkan adalah efek lokal (disekitar tempat obat diberikan);

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved