Berita Internasional
Rusia Peringati Hari Kemenangan, Presiden Ukraina Peringatkan Akan Ada Peningkatan Serangan
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan dalam beberapa hari terakhir bahwa serangan Rusia akan memburuk menjelang Hari Kemenangan.
TRIBUNJATENG.COM,NEW YORK - Hari ini Moskow bersiap untuk merayakan Hari Kemenangan untuk memperingati penyerahan Nazi Jerman pada tahun 1945.
Mereka akan melakukan parade militer Hari Kemenangan pada hari Senin (9/5/2022).
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan dalam beberapa hari terakhir bahwa serangan Rusia akan memburuk menjelang Hari Kemenangan.
Beberapa kota di Ukraina mengumumkan jam malam atau memperingatkan orang-orang agar tidak berkumpul di tempat umum.
Baca juga: Putin Janjikan Kemenangan Rusia Serang Ukraina, Samakan Saat Kalahkan Nazi di Perang Dunia II
Presiden Rusia Vladimir Putin diyakini ingin memproklamirkan semacam kemenangan di Ukraina ketika dia berpidato di depan pasukan di Lapangan Merah.
"Mereka tidak punya apa-apa untuk dirayakan," kata Linda Thomas-Greenfield, duta besar AS untuk PBB, kepada CNN.
“Mereka belum berhasil mengalahkan Ukraina. Mereka belum berhasil memecah belah dunia atau memecah belah NATO. Dan mereka hanya berhasil mengasingkan diri secara internasional dan menjadi negara paria di seluruh dunia,” ujarnya.
Peningakatan serangan Rusia sudah mulai dirasakan Ukraina. Pada Minggu (8/5/2022), Rusia menyerang sekolah yang menewakan lebih dari 60 orang.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan keterkejutannya akan serangan Rusia terhadap sebuah sekolah di kota Bilohorivka, Ukraina, Minggu (8/5/2022).
Juru bicara PBB mengatakan pada hari Minggu bahwa Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menegaskan kembali bahwa warga sipil dan infrastruktur sipil harus diselamatkan di bawah hukum internasional.
“Perang ini harus diakhiri, dan perdamaian harus ditegakkan sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional. PBB dan mitra kemanusiaannya di Ukraina akan terus mendukung mereka yang hidupnya telah hancur karena perang,” ujar Juru bicara PBB Stephane Dujarric seperti dikutip dari The Associated Press.
Lebih dari 60 orang diduga tewas akibat serangan ini. Sebuah bom Rusia meratakan sebuah sekolah yang digunakan sebagai tempat perlindungan.
“Warga sipil harus membayar harga tertinggi dalam perang,” ujar Guterres.
Pihak berwenang mengatakan sekitar 90 orang telah berlindung di ruang bawah tanah. Kru darurat menemukan dua mayat dan menyelamatkan 30 orang, tetapi kemungkinan besar 60 orang yang masih berada di bawah reruntuhan sudah tewas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Volodymyr-Zelensky-282.jpg)