Berita Purbalingga

Pemkab Purbalingga Pamerkan Keberhasilan Rusman, Bikin Pengawet Makanan Berbahan Serabut Kelapa

Ini keberhasilan Rusman, warga Desa Nangkod, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga yang memproduksi pengawet makanan berbahan serabut kelapa.

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: deni setiawan
PEMKAB PURBALINGGA
Tim dari Pemkab Purbalingga melihat bahan baku serabut kelapa di rumah Rusman, warga Desa Nangkod, Kecamatan Kejobong, Senin (20/6/2022). Dari serabut kelapa itu, dijadikannya sebagai pengawet makanan secara herbal. 

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Rusman, warga Desa Nangkod, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga sukses memproduksi pengawet makanan berbahan serabut kelapa.

Dia adalah owner CV Tirta Sumber Kencana Purbalingga.

Bahan serabut kelapa di tempatnya diolah sedemikian rupa sehingga menjadi bahan pengawet makanan dalam bentuk herbal.

Baca juga: Usia Harapan Hidup Meningkat di Purbalingga, Capai 73 Tahun Sesuai Data Update Dinkes

Baca juga: Mayat Tanpa Identitas di Sungai Serayu Bukateja Purbalingga Akhirnya Dimakamkan

Agar aman dikonsumsi, bahan pengawet ini sedang dilakukan pengujian Standarisasi Keamanan, Mutu, dan Manfaat Pangan Olahan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pusat. 

Hal itu disampaikan Plt Sekretaris Dinkop UKM Kabupaten Purbalingga, Adi Purwanto kepada Tribunjateng.com,  Senin (20/6/2022).

"Pada Jumat (17/6/2022), BPOM pusat dan tim BPOM Wilayah Banyumas sudah datang guna mengambil sampel." 

"Harapannya bisa lolos uji sampel dan nantinya bisa digunakan bagi masyarakat atau industri makanan," ujar Adi. 

Adi mengatakan, bahan baku berupa sabut atau kulit kelapa sangat melimpah di Purbalingga, khususnya di Kecamatan Kejobong. 

Sehingga, untuk tempat produksi dibuat di Nangkod sangat cocok dalam mendapatkan bahan bakunya. 

Selain itu juga dengan adanya tempat produksi bahan pengawet makanan ini juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi warga setempat.

"Produk alami atau herbal pengawet alami sangat diapresiasi oleh Badan BPOM karena sangat inovatif."

"Ini bisa membantu pencegahan produsen menggunakan zat berbahaya dalam mengawetkan makanan," ungkapnya.

Baca juga: Hujan Angin di Kemangkon Purbalingga, Satu Pohon Tumbang dan Sejumlah Rumah Rusak

Baca juga: Satlantas Polres Purbalingga Beri Terapi Keselamatan Bagi Anak-anak Pelanggar Lalu Lintas

Selain bermanfaat pada pengolahan makanan yang lebih higienis, lanjut Adi, produk ini bisa berdampak pada masyarakat sekitar terutama dalam hal pengadaan bahan baku maupun pemberdayaan pekerja. 

Selain itu ternyata limbah atau produk sampingan seperti abu dan cairan tar masih bisa bernilai ekonomis dan tidak dibuang.

Sebagaimana dituturkan oleh Adi dari Rusman, bahan pengawet ini telah diujicobakan ke beberapa pengusaha tahu di beberapa wilayah.

Seperti Jakarta, dan beberapa pengusaha tahu di sekitar Kejobong seperti di Desa Larangan. 

Produk ini juga diujikan untuk pengolahan ikan di Kabupaten Cilacap dan Pangandaran. (*)

Baca juga: Panen Raya Padi Organik di Karanganyar, Petani Bikin Kirab Tumpeng di Wisata Embung Setumpeng

Baca juga: Pemkab Batang Siapkan Elektronifikasi Transaksi Pendapatan Daerah, Sesuai Tuntutan UU HKPD

Baca juga: 13.184 Pendaftar Sudah Bisa Daftar PPBD SD Secara Online, Daya Tampung 14.364 Kursi di Kota Semarang

Baca juga: 900 Guru TK Ikuti Workshop Kurikulum Merdeka Belajar, Darwati: Disesuaikan Tuntutan Zaman

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved