Dongeng Sebelum Tidur: Kakek dan Ikan Mas Ajaib
Dahulu, hiduplah sepasang kakek dan nenek yang sangat miskin. Mata pencaharian si kakek adalah sebagai pencari ikan di laut.
Penulis: Ardianti WS | Editor: galih permadi
“Istriku tidak bisa membuatku tenang.
Dia bahkan semakin marah. Katanya dia sudah lelah menjadi istri nelayan dan ingin menjadi nyonya bangsawan.” Pinta si kakek.
“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah aku kabulkan.” Kata si ikan emas ajaib.
Alangkah terkejutnya si kakek kaetika kembali ternyata rumahnya telah berubah menjadi sebuah rumah yang megah.
Terbuat dari batu yang kokoh, tiga lantai tingginya, dengan banyak sekali pelayan di dalamnya.
Si kakek melihat istrinya sedang duduk di sebuah kursi tinggi sibuk memberi perintah kepada para nelayan.
“Halo istriku.” Sapa sang kakek.
“Betapa tidak sopannya.” Bentak si nenek.
”Berani sekali kau mengaku sebagai suamiku. Pelayan bawa dia ke gudang dan beri dia 40 cambukan!”
Segera saja beberapa pelayan menyeret si kakek ke gudang dan mencambuknya sampai si kakek hampir tidak bisa berdiri.
Hari berikutnya istrinya memerintahkan si kakek untuk bekerja sebagai tukang kebun.
Tugasnya adalah menyapu halaman dan merawat kebun.
“Dasar perempuan jahat!” Pikir si kakek. “Aku sudah memberikan dia keberuntungan tapi malah tidak mau mengakuiku sebagai suaminya.”
Lama kelamaan si nenek bosan menjadi nyonya bangsawan, maka dia kembali memanggil si kakek.
”Hai lelaki tua, pergilah kembali kepada ikan emasmu dan katakan padanya aku tidak mau lagi menjadi nyonya bangsawan, aku mau menjadi ratu.”
Maka kembalilah si kakek ke tepi laut dan berseru.
”Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari. Kabulkan lah keinginan kami.”
Dalam sekejap ikan emas ajaib muncul di hadapan si kakek. ”Apa engkau inginkan lagi kakek.”
“Istriku semakin keterlalulan. Dia tidak ingin menjadi nyonya bangsawan, tapi ingin menjadi ratu.”
“Baiklah, pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” Kata ikan emas.
Sesampainya si kakek di tempat dulu rumahnya berdiri, kini tampak olehnya sebuah istana beratap emas dengan para penjaga berlalu lalang.
Istrinya yang kini berpakaian layaknya seorang ratu berdiri di balkon dikelilingi para jenderal dan gubernur.
Jika dia mengangkat tangannya, bedug akan berbunyi diiringi musik dan para tentara akan bersorak sorai.
Setelah sekian lama, si nenek kembali bosan menjadi seorang ratu.
Maka dia memerintahkan para jenderal untuk menemukan si kakek dan membawa ke hadapannya.
Seluruh istana sibuk mencari si kakek.
Akhirnya mereka menemukan kakek di kebun dan membawanya menghadap ratu.
“Dengar lelaki tua! Kau harus pergi menemui ikan emasmu! Katakan padanya bahwa aku tidak mau lagi menjadi ratu.
Aku mau menjadi dewi laut sehingga semua laut dan ikan-ikan diseluruh dunia menuruti perintahku.”
Si kakek terkejut mendengar permintaan istrinya, dia mencoba menolaknya.
Tapi apa daya, si nenek mengancam akan membunuhnya, maka dengan terpaksa dia kembali ke tepi laut dan berseru.
”Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari. Kabulkan lah keinginan kami.”
Kali ini ikan emas tidak langsung muncul. Kakek mencoba memanggil kembali, namun ikan emas tetap tidak terlihat.
Pada saat si kakek memanggil untuk yang ketiga kalinya, tiba-tiba laut mulai bergolak dan bergemuruh.
Saat ombak mulai mereda muncullah ikan emas.” Apa yang kau inginkan lagi kakek.”
“Istriku telah benar-benar menjadi gila.” kata si kakek.”
Dia tidak mau lagi menjadi ratu tetapi ingin menjadi dewi laut yang bisa mengatur lautan dan memerintah semua ikan.”
Si ikan emas terdiam dan tanpa mengatakan apa pun dia kembali menghilang ke dalam laut.
Si kakek pun kembali pulang. dia hampir tidak percaya pada penglihatannya ketika menyadari bahwa istana yang megah dan semua isinya telah hilang.
Kini di tempat itu, berdiri sebuah gubuk reot yang dulu pernah ditinggalinya.
Di dalamnya duduklah si nenek dengan pakaiannya yang compang-camping.
Mereka kembali hidup seperti dulu.
Kakek kembali menjadi nelayan dengan penghasilan yang pas-pasan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Dongeng-Pak-Tani.jpg)