Berita Ekonomi
Indonesia Masuk 15 Besar Negara Terancam Resesi, Begini Kata Sri Mulyani hingga IMF
Kondisi perekonomian global dikatakan Dana Moneter Internasional (IMF) sangat suram. Mereka menyebutnya kian gelap
Sejauh ini, The Fed—sebutan bagi bank sentral AS—telah menaikkan suku bunganya sebanyak tiga kali tahun ini saja.
Suku bunga yang lebih tinggi, biasanya dilakukan untuk menekan inflasi, sebab itu berarti perusahaan dan orang-orang perlu menggunakan uang tunai untuk membayar pinjaman, ketimbang menghabiskan uang itu untuk makanan dan layanan.
IMF mengatakan, sebanyak 75 bank telah menaikkan suku bunganya tahun lalu, dengan rata-rata kenaikan 3,8 kali.
Akan tetapi, jika pola itu tidak berlanjut, Georgieva mengantisipasi lebih banyak kerugian bagi pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.
"Bertindak sekarang akan lebih sedikit merugikan daripada bertindak nanti," tambahnya.
Dia juga memperingatkan negara-negara yang telah menggelontorkan miliaran dolar untuk mendukung ekonomi mereka selama pandemi, perlu menguranginya untuk meredam permintaan barang dan jasa yang didorong oleh uang itu.
Bantuan uang tunai masih dibutuhkan
Bagaimanapun, bantuan uang tunai untuk mendukung rumah tangga yang rentan, masih dibutuhkan, terutama mereka yang paling terdampak kenaikan harga energi atau pangan yang tinggi.
Georgieva mengatakan, pengeluaran ini harus didanai oleh pemotongan di alokasi anggaran atau sumber pendapatan baru, selain utang.
Dalam jangka panjang, tambah Georgieva, kebijakan untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja global, terutama yang mendorong lebih banyak perempuan untuk bekerja, juga akan membantu.
Menjelang pertemuan G20 yang berlangsung akhir pekan ini, Georgieva mengatakan bahwa kerja sama global yang lebih baik diperlukan karena risiko ketidakstabilan sosial meningkat.
Risiko terjadi karena kekhawatiran atas pasokan makanan dan energi yang terus meningkat.
Kekhawatiran semacam itu telah berkontribusi pada meluasnya aksi demonstrasi di Sri Lanka, yang menderita krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaan lebih dari 70 tahun lalu.
Kepala IMF mengatakan, tindakan segera yang dapat diambil termasuk mengakhiri pembatasan ekspor makanan yang telah diberlakukan banyak negara sejak perang di Ukraina dimulai.
Dia juga menyerukan negara-negara terkaya di dunia untuk menggunakan pertemuan itu sebagai kesempatan untuk membantu memberikan dukungan yang mendesak kepada mereka yang paling membutuhkan. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Indonesia Masuk 15 Besar Negara Terancam Resesi, IMF: Prospek Ekonomi Global Kian Suram