Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Dongeng Anak Nusantara Asal Muda Penduduk Merem, Cocok Dibaca Sebelum Tidur

Dongeng Anak Nusantara Asal Muda Penduduk Merem, Cocok Dibaca Sebelum Tidur

Penulis: non | Editor: galih permadi
Alkisah Rakyat
Dongeng Anak Nusantara Asal Muda Penduduk Merem, Cocok Dibaca Sebelum Tidur 

Sama seperti ayahnya, sehari hari Woiwallytmang berburu dan berkebun.

Pada suatu hari nasibnya  sedang sial, pemuda itu tak mendapat seekor binatangpun setelah berburu sampai siang.

Karena lelah, Woiwallytmang beristirahat dibawah sebuah pohon.

Tak sengaja matanya menangkap seekor burung yang tengah bertengger di pohon di dekat tempatnya duduk.

Woiwallytmang segera memanah burung itu. Lagi lagi ia tak beruntung, panahnya salah sasaran.

Woiwallytmang mengikuti arah anak panah terakhirnya melesat. 

Ternyata anak panah itu menancap di batang pohon pisang di sebuah kebun.

Pemuda itu berjalan memasuki kebun dan mangambil anak panahnya.

Ketika ia selesai mencabut anak panahnya, Woiwallytmang mendengar sebuah suara menegurnya.

“Hai pemuda tampan, siapakah namamu ?”, ujar seorang perempuan dari balik pohon pisang.

Woiwallytmang tertegun memandang perempuan yang berdiri di hadapannya. Ia heran, ternyata ada manusia lain selain laki laki.

Memang sejak kecil Woiwallytmang hanya mengenal sosok ayahnya.

Walau masih merasa heran, Woiwallytmang menjawab .

”Namaku Woiwallytmang”, ujarnya singkat. Perempuan itu masih ingin mengetahui lebih jelas lagi.

Ia merasa tidak pernah melihat Woiwallytmang di kampungnya selama ini.

“Siapakah orang tuamu ? tanya perempuan itu lagi. “Ayahku Woiram”, jawab Woiwallytmang singkat.

Perempuan itu yang ternyata adalah Bonadebu sangat terkejut mendengar jawaban Woiwallytmang.

Ia tak menyangka kalau suaminya ternyata memiliki seorang anak yang telah tumbuh menjadi pemuda gagah yang sekarang berdiri di hadapannya.

Setelah mencoba menahan rasa amarahnya, Bonadebu berkata kepada Woiwallytmang.

“Mari kuantarkan kau kepada ayahmu “, ajaknya seramah mungkin.

Woiwallytmang yang tak dikunjungi ayahnya beberapa hari ini langsung setuju.

“Jadi kau tahu dimana ayahku berada ?”, tanyanya antusias.

Bonadebu mengangguk sambil tersenyum.

Sebelum menuju ke rumah Woiram, Bonadebu mengajak Woiwallytmang mampir di Sungai Wasi untuk menangkap udang yang akan diberikan kepada Woiram.

Karena asyik menangkap udang, Bonadebu tak melihat ketika Woiwallytmang berjalan memasuki gua yang terletak di pinggir sungai itu.

Setelah menunggu lama, Woiwallytmang tak muncul juga.

Bonadebu mengira Woiwallytmang telah pergi meninggalkannya, akhirnya Bonadebu memutuskan untuk pulang.

Kepala adat tempat tinggal Bonadebu dan Woiram memiliki dua orang putri bernama Mesi dan Mesam. 

Tak lama setelah Bonadebu meninggalkan Sungai Wasi, Mesi dan Mesam mendatangi sungai itu untuk mencari udang buat ayah mereka.

Ketika tengah mencari udang, Mesi dan Mesam dikejutkan oleh kedatangan Woiwallytmang yang kebetulan baru keluar dari gua.

Woiwallytmang lagi lagi terpana melihat kedua gadis itu.

Akhirnya mereka berkenalan dan bercakap cakap.

Woiwallytmang membantu Mesi dan Mesam mencari udang.

Ia sangat gembira karena menemukan teman baru hari itu.

Perkenalan Woiwallytmang dengan kedua putri  kepala adat rupanya meninggalkan kesan yang mendalam buat pemuda itu.

Ia jatuh cinta pada Mesi. Agar punya alasan untuk bertemu Mesi, Woiwallytmang senantiasa mencari udang di Sungai Wasi dan membawanya ke rumah kepala adat.

Kepala adat menangkap maksud Woiwallytmang. Setelah beberapa kali mengantar udang, akhirnya kepala adat menanyakan maksud pemuda itu sesungguhnya.

“Saya ingin melamar Mesi menjadi istri saya, Bapa”, kata Woiwallytmang dengan kepala tertunduk malu.

Melihat kesungguhan Woiwallytmang, kepala adat setuju untuk menikahkan putrinya dengan Woiwallytmang.

Pesta meriah dilangsungkan. Selain merayakan pernikahan Mesi dan Woiwallytmang, kepala adat juga menyerahkan jabatannya kepada Woiwallytmang pada pesta itu.

Seluruh penduduk Merem diundang, tak terkecuali Woiram dan Bonadebu.

Woiram sungguh kaget begitu melihat sang pengantin laki laki adalah anaknya, Woiwallytmang.

Bonadebu yang telah menceritakan perihal Woiwallytmang kepada penduduk, membuat mereka membenci Woiram.

Mereka menganggap Woiram telah mengasingkan anaknya sendiri ke tengah hutan.

Orang orang itu sungguh tak tahu apa alasannya sesungguhnya dan bagaimana ia memelihara Woiwallytmang dengan baik.

Woiram sungguh kecewa mengapa kepala adat tak menanyakan perihal orang tua menantunya itu dan mengundangnya.

Apalagi kini para penduduk setuju untuk menerimanya sebagai kepala adat yang baru.

Woiram merasa dirinya tak dihargai sama sekali.

Dengan rasa kecewa yang mendalam, Woiram berdoa kepada Dewa agar memberinya keadilan.

Tiba tiba hujan turun dengan derasnya tak henti. Semua makanan yang terhidang dalam pesta itu berubah menjadi batu.

Hujan yang tak jua berhenti mengakibatkan banjir besar yang menenggelamkan  Kampung Merem.

Seluruh penduduk hanyut terbawa derasnya air.

Hanya Woiwallytmang, Mesi, dan Woiram yang selamat dari bencana banjir itu.

Mereka selamat karena memanjat pohon pinang.

Setelah banjir surut, Woiram mengajak Mesi dan Woiwallytmang ke Sungai Wasi.

a menasihati mereka agar senantiasa memohon kepada dewa agar diberi banyak keturunan.

Setelah itu Woiram menginjakkan kakinya ke atas sebuah batu besar dan tiba tiba menghilang disana.

Mesi dan Woiwallytmang mendengarkan kata kata Woiram.

Dewapun mendengarkan doa yang senantiasa mereka panjatkan.

Keturunan mereka sangat banyak dan berkembang biak menjadi penduduk Merem di Papua saat ini. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved