Opini

Opini Edy Supratno, Sejarah Kudus: Revisi Solichin Salam

Selama ini buku yang banyak membahas tentang sejarah Kudus di antaranya ditulis oleh sejarawan Kudus sendiri, yaitu Solichin Salam. Sayangnya tidak se

Editor: m nur huda
Tribun Jateng
Opini Ditulis oleh Edy Supratno (Dosen Sejarah STAI Syekh Jangkung Pati) 

Opini Ditulis oleh Edy Supratno (Dosen Sejarah STAI Syekh Jangkung Pati)

TRIBUNJATENG.COM - MEMPELAJARI sejarah Kudus seperti minum air laut. Semakin minum akan semakin haus. Karena itulah setiap ada pihak yang menyampaikan hasil kajiannya tentang sejarah Kudus, penulis selalu sungguh-sungguh ingin mempelajarinya.

Selama ini buku yang banyak membahas tentang sejarah Kudus di antaranya ditulis oleh sejarawan Kudus sendiri, yaitu Solichin Salam. Sayangnya tidak semua koleksi bukunya tersedia lengkap di Perpustakaan Kudus. Beberapa bukunya justru saya dapatkan ketika riset di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda beberapa tahun silam.

Salam pernah menulis bahwa panel relief yang di Masjid Langgar Dalem mengandung sengkalan memet, trisula pinulet naga. Dari relief itu muncul angka 1458 Masehi yang pada tahun itu Kerajaan Demak pun belum lahir. Tentu ini informasi menarik bagi orang seperti saya yang selalu ‘kehausan’. Relief di lokasi bangunan yang katanya jadi langgarnya Sunan Kudus itu ternyata sudah ada 91 tahun lebih dulu dibandingkan Sunan Kudus mendirikan Masjid Al Aqsha 1549.

Perihal lain yang ditulis Solichin Salam adalah tentang batu inskripsi yang saat ini terpasang di mihrab Masjid Al Aqsha. Salam, lulusan kursus jurnalistik di Jerman ini menulis bahwa batu inskripsi itu dibawa Sunan Kudus dari Yerusalem. Keterangan itu termuat dalam buku berjudul Ja’far Shadiq Sunan Kudus terbitan Percetakan Menara Kudus 1986.

Asal Batu

Di halaman 16, Salam menuliskan bahwa batu tersebut dari Baitulmakdis (Al Quds) yang kemudian menjadi Kudus. Sebelum itu, pada 1977 Salam juga menulis tentang hal yang serupa. Namun, dalam buku berjudul Kudus Purbakala dalam Perjoangan Islam itu, dia tidak eksplisit menyebut Baitulmakdis.
Buku Salam yang berjudul Kudus Selayang Pandang, menurut saya buku yang cukup penting dalam membicarakan sejarah Kudus. Di buku yang terbit tahun 1995 ini Salam merevisi tulisannya sendiri tentang asal usul batu inskripsi.

Salam yang menjadi anggota Pengurus Pusat Muhammadiyah pada periode 1959-1965 ini bercerita bahwa dia dikirimi surat oleh Mr. M. Inegollu, Duta Besar Turki untuk Indonesia di Jakarta. Inti surat Dubes menceritakan bahwa Baitulmakdis yang dimaksud dalam konteks sejarah Kudus bukan yang ada di Yerusalem sana, melainkan yang di Kesultanan Aceh. Baitulmakdis adalah nama akademi militer di Aceh pada zaman itu yang instrukturnya berasal dari Turki.

Salam yang juga aktif di Golkar dengan nomor anggota 09010008478 itu, langsung membuktikan pernyataan Dubes. Dia turun ke lapangan riset ke Aceh dan bertemu pakar sejarah Aceh Prof. Dr H. Ali Hasjmy. Hasilnya, akademi militer yang disebut sang Dubes benar. Beberapa tokoh terkenal pernah belajar di akademi ini, seperti Laksamana Malahayati, ulama sufi dari Gowa Syekh Yusuf hingga Sisingamangaraja. Salam kemudian diingatkan bahwa Ja’far Shadiq adalah panglima militer Kerajaan Demak. Sangat lumrah jika dua kerajaan (Aceh dan Demak) yang sedang bermusuhan dengan Portugis ini bekerja sama.

Sayangnya cerita sejarah versi buku revisi ini kurang memasyarakat. Cerita berbau dongeng lebih membumi di Kudus. Karena itu tidak heran belakangan di Kudus muncul sebuah istilah baru Yerusalem van Java karena mereka masih meyakini sejarah Kudus versi sebelum revisi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved