Opini
Opini Edy Supratno, Sejarah Kudus: Revisi Solichin Salam
Selama ini buku yang banyak membahas tentang sejarah Kudus di antaranya ditulis oleh sejarawan Kudus sendiri, yaitu Solichin Salam. Sayangnya tidak se
Jika tidak hati-hati membacanya, maka akan dipahami bahwa buku ini menyebutkan ada dua alun-alun di Kudus. Padahal, yang dimaksud Castles adalah pohon beringin yang di alun-alun (saat ini) pohonnya lebih kecil dibandingkan pohon beringin di Taman Menara.
Sehingga, yang dua adalah beringinnya, bukan alun-alunnya. Sejarah juga mencatat bahwa pohon beringin yang di alun-alun sekarang pernah roboh terkena angin ribut dan baru ditanam kembali pada Senin, 23 Februari 1880, sehingga wajar pohonnya lebih kecil. Syukur pula Castles menyertakan peta dan dengan jelas menulis bahwa di titik lokasi itu adalah pasar.
Dengan kata lain, jika tim penulis naskah ternyata merujuk buku Castles di halaman 72 itu, maka sudah semestinya kegiatan ini tidak bisa dilanjutkan. Revitalisasi memiliki makna menghidupkan kembali. Jika yang dulunya pernah dianggap hidup ternyata tidak ada, maka judul kegiatan revitalisasi sudah tidak pas.
Secara sekilas semestinya juga gampang diamati apakah Taman Menara itu dulunya alun-alun atau tidak. Coba saja diukur dimensi luasnya lalu dibandingkan dengan alun-alun pada umumnya, baik yang di Kudus wetan maupun yang di Keraton Yogyakarta. Barangkali ukuran luasnya cuma seperempatnya. Logiskah disebut alun-alun? (*/tribun jateng cetak)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Opini-Ditulis-oleh-Edy-Supratno-Dosen-Sejarah-STAI-Syekh-Jangkung-Pati.jpg)