Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Regional

Polisi Kaget Dengan Pengakuan 7 Gadis SMA, Tegas Ingin Fokus Open BO Daripada Sekolah

Pengakuan mengejutkan didapat polisi dari tujuh gadis belia di Lubuklinggau Sumatera Selatan.

Editor: rival al manaf
Tribun padang
ILUSTRASI: Siswi SMA open BO 

TRIBUNJATENG.COM, SUMATERA SELATAN - Pengakuan mengejutkan didapat polisi dari tujuh gadis belia di Lubuklinggau Sumatera Selatan.

Mereka dengan lantang dan yakin memilih untuk fokus Open BO daripada sekolah.

Hal itu mereka lakukan agar mendapat uang lebih untuk jajan dan menjalani hidup seperti sosialita.

Baca juga: Paman Nikahi Keponakan, Setelah Melahirkan Dibunuh dan Dimasukan Karung Karena Bayinya

Baca juga: Ronaldo Pemain Paling Sering Dapat Cacian di Twitter, Ribuan Tweet Kasar Setelah Resmi Pulang ke MU

Baca juga: Kunci Jawaban Halaman 53 54 55 58 59 Tulislah Pemimpin Idolamu Tema 7 Kelas 6 SD

Baca juga: Prakiraan Cuaca Kota Semarang Hari Ini Rabu 3 Agustus 2022, Waspada Hujan Sore Hari

Mereka rela menjadi pemuas nafsu pria hidung belang demi memenuhi gaya hidupnya.

Ketujuh gadis beia itu berasal dari keluarga menengah ke bawah. Namun punya mimpi menjadi anak sosialita.

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Harissandi melalui Kanit PPA, Aipda Kristin menceritakan, pengakuan ketujuh korban saat diinterogasi Polisi mengaku terpaksa karena butuh uang jajan.

"Mereka rata-rata ngakunya untuk uang jajan, intinya uang jajan kurang," ungkap  Kristin menirukan ucapan salah satu korban saat dikonfirmasi Tribunsumsel.com, Selasa (2/8/2022).

Kristin mengatakan hampir semuanya mengaku terjun ke dunia hitam tersebut karena tuntutan ekonomi, sebab semuanya berlatar belakang dari keluarga yang kurang mampu.

"Taraf hidupnya ada yang bawah sekali, ada yang menengah, tapi hanya sebagian yang menengah, sisanya karena ekonominya memang menengah ke bawah," ujarnya.

Dari ketujuh korban tersebut rata-rata merupakan remaja yang sudah tidak pernah aktif sekolah alias tidak pernah masuk sekolah meski masih berstatus sebagai pelajar.

"Mereka ini bisa dibilang masih sekolah iya, tapi tidak mau lagi masuk sekolah, malah ada yang baju SMA nya semenjak dibeli tidak dipakai sama sekali," ungkapnya.

Seperti contohnya, satu korban asal warga Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang itu, dari awal memang tidak mau masuk sekolah lagi, padahal baru masuk SMA, akhirnya bertemu teman-temannya memilih jalan menjadi wanita panggilan. 

"Ya yang dari Empat Lawang itu bajunya tidak pernah dipakai sama sekali sejak dibeli, padahal baru masuk SMA," ujarnya.

Kristin mengungkapkan rata-rata anak yang jadi korban ini merupakan tipikal anak yang tidak mau terkekang di rumah, dari awal mereka selalu menuntut kebebasan kepada keluarganya.

"Mereka (korban) ini merupakan tipikal anak yang ingin bebas, mungkin karena pergaulan, terus menjadi kebutuhan, rata-rata anak yang tidak betah di rumah," ungkapnya.

Hasil interogasi dan pengamatan Kristin ketika menginterogasi para korban, selain tipikal anak yang ingin bebas, para korban ini tipikal anak yang tidak mau mendengar nasehat orang tua sama sekali.

"Maunya bebas aja, tidak mau cuci piring," ujarnya.

Hanya Dikenakan Wajib Lapor

Saat ini ketujuh korban praktik bisnis prostitusi online di Kota Lubuklinggau itu hanya dikenakan wajib lapor setelah para orang tua korban memberi jaminan.

"Saat ini sudah dipulangkan, mereka hanya dikenakan wajib lapor dengan jaminan orang tua, wajib lapor ini sampai perkara penyidikan ini selesai," ungkapnya.

Selain diwajibkan wajib lapor, pihak Polres Lubuklinggau juga sudah berkoordinasi dengan pihak Dinas Sosial (Dinsos) Kota Lubuklinggau agar para korban tersebut diberi pelatihan.

"Sekarang yang sudah bersedia baru dua orang, sementara yang lima orang lainnya belum, kita berharap mereka semua mau," ujarnya.

Sebelumnya, Bisnis prostitusi online yang menjadikan media Michat sebagai sarana mencari pelanggan yang dibongkar Polres Lubuklinggau diduga sudah berlangsung lama.

Kasus prostitusi online yang menjadikan anak dibawah umur sebagai korbannya ini di gerebek di Hotel Arwana Kelurahan Taba Koji, Kecamatan Lubuklinggau Timur I.

Berdasarkan penelusuran Tribunsumsel.com disekitar lokasi hotel, praktik bisnis prostitusi ini sudah berlangsung lama dan selama ini sudah menjadi rahasia umum dikalangan masyarakat sekitar.

Ketua RT 04 Kelurahan Taba Koji, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Kota Lubuklinggau, Bambang Setiadarma mengungkapkan, sudah tidak kaget lagi dengan peristiwa penggerebekan tersebut.

"Kami (warga) sudah tidak kaget lagi, kebetulan masalahnya baru terekspos sekarang," kata Bambang, Selasa (2/8/2022) siang.

Warga sekitar hotel Arwana tak kaget lagi  bila sampai di gerebek oleh Polisi, semenjak dirinya menjadi ketua RT sudah pernah komplain langsung kepada pihak manajemen hotel.

"Kejadiannya tahun 2020 lalu, kami pernah komplain masalah hiburan malam, karena saat itu mengganggu aktivitas warga karena kadang musiknya kencang sekali sampai pukul 02.00-03.00 Wib pagi," ungkapnya.

Semenjak terjadi keributan dan dikomplain  warga itu, sedikit mengalami perubahan, suara musiknya tidak sekeras dahulu, tapi masih kadang beroperasi sampai pukul 03.00 Wib pagi.

"Untuk keterlibatan anak-anak dalam prostitusi online ini juga kita tidak kaget lagi, karena kita sudah pernah komplain, saat itu masuk dalam perjanjian kita," ujarnya.

Sebab, sebelum warga komplain, hampir setiap malam melihat anak-anak remaja berkunjung ke hotel itu, bahkan kadang keluar masuk hingga larut malam.

"Lingkungan kami itu masyarakatnya umum, jadi wajar banyak masyarakat melihat itu, (anak-anak keluar masuk) mereka keluar masuk lewat depan rumah warga," ungkapnya.

Baca juga: Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini Rabu 3 Agustus 2022, Virgo Nikmati Hidup dan Bahagiakan Diri Sendiri

Baca juga: Pria Ini 8 Bulan Menggali Cari Anaknya yang Hilang saat Erupsi Gunung Semeru, Ini Hasilnya

Baca juga: Kisah Pilus Istri Dekan Fakultas Kedokteran Diselingkuhi Suaminya saat Mengidap Tumor Otak

Bambang mengungkapkan modus anak-anak itu supaya tidak ketahuan berprofesi sebagai pemandu lagu, bahkan dirinya beberapa kali datang langsung melihat anak-anak itu sedang melayani tamu.

"Waktu itu saya sebagai RT saya datangi saya lihat, mereka modusnya menjadi pemandu lagu," ujarnya.

Untuk itu, dirinya berharap dengan adanya kejadian ini pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau melakukan penertiban dan mengembalikan fungsi hotel sesuai dengan peruntukannya.

"Misalnya hotel silahkan jadi hotel, fungsinya sebagai penginapan, tempat karaokenya silahkan buka tidak masalah, tapi tutup sampai pukul 24.00 Wib saja," tambahnya. (*)

Artikel ini telah tayang di TribunPekanbaru.com dengan judul Agar Fokus Jadi PSK, 7 Gadis Belia di Lubuklinggau ini Berhenti Sekolah, 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved