Kabupaten Semarang

Mengenal Grebeg Gunung Kendalisodo, Dipusatkan di Sendang Cupumanik Kabupaten Semarang

Begini suasana warga Desa Samban, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang memperingati masuknya Suro dengan menggelar tradisi Grebeg Gunung Kendalisodo.

Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV PRADANA
Kirab yang dilakukan warga Desa Samban, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang saat menggelar tradisi Grebeg Gunung Kendalisodo, Minggu (7/8/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, BAWEN - Bagi masyarakat Jawa, Suro atau dalam penggalan Islam disebut Muharram, memiliki makna tersendiri.

Di Kabupaten Semarang, warga Desa Samban, Kecamatan Bawen memperingati masuknya Suro dengan menggelar tradisi Grebeg Gunung Kendalisodo.

Tradisi itu dipusatkan di sebuah mata air yang oleh warga setempat disebut Sendang Cupumanik.

Baca juga: Info Vaksinasi Primer Sinopharm di Kota Semarang Bisa Diakses di Laman Victori

Baca juga: Terima Kasih Atas Program Kesehatan Gratis yang Diberikan Pemkot Semarang 

Di mata air itu, warga juga melakukan penjamasan Garuda Pancasila, dengan makna mensucikan diri, melambangkan persatuan dan mengharapkan kesejahteraan.

Selain itu, warga juga mengikuti upacara, ritual, dan kirab atau arak-arakan di sekitar perbukitan yang dinamai Kendalisodo.

Warga menggelar kegiatan itu biasanya pada 10 Muharram tiap tahunnya, yang mana kali ini diadakan pada Minggu (7/8/2022).

Upacara Grebeg Kendalisodo tersebut juga bertumpu pada kepercayaan yang berkaitan dengan tokoh pewayangan Hanoman.

Konon, Hanoman pernah bertapa dan menjaga wilayah tersebut.

“Maknanya yaitu bersyukur kepada Gusti (Tuhan, red)."

"Selain itu mengharap keselamatan, kemakmuran." 

Juru kunci Sendang Cupumanik, Desa Samban, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang melakukan ritual dan doa di cungkup sendang dalam rangka memeringati masuknya Suro, Minggu (7/8/2022).
Juru kunci Sendang Cupumanik, Desa Samban, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang melakukan ritual dan doa di cungkup sendang dalam rangka memeringati masuknya Suro, Minggu (7/8/2022). (TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV PRADANA)

Baca juga: Pengakuan Eks Tukang Timer Angkutan Umum di Semarang: Pekerjaannya Syarat dengan Premanisme 

Baca juga: Pesan Kemenag Kabupaten Semarang Buat Keluarga Jamaah Haji: Jangan Terburu-buru Gelar Walimatul Hajj

"Kami ungkapkan tak hanya bentuk lisan, namun seperti ini."

"Mohon maaf, ritual sebagai perantara, namun kami tetap berharap pada Tuhan Yang Maha Esa,” ungkap juru kunci sendang tersebut, Rabin kepada Tribunjateng.com, Senin (8/8/2022).

Terkait makna Garuda Pancasila yang dijamas, Rabin menerangkan bahwa hal tersebut menggambarkan perjuangan para pahlawan dahulu dalam memerdekakan Republik Indonesia.

“Yang sudah dititipkan para pendahulu, kami jaga agar selalu adil dan makmur,” imbuhnya.

Acara itu diikuti oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak yang turut meramaikan desa tersebut.

Diadakan juga pertunjukan kesenian seperti tarian-tarian, kuda lumping dan lain-lain.

Para penjual jajanan keliling juga memenuhi permukiman dan jalan-jalan yang dilalui kirab. (*)

Baca juga: Waspadai Cacar Monyet, Dinkes Demak: Aktif Sosialisasi Cara Mendiagnosis

Baca juga: Juara Dunia Silat Asal Kudus Diarak Gunakan Mobil Antik, Safira dan Ortunya Tunggani Jeep Willys

Baca juga: Dua Jam Ribuan Nasi Uyah Asem Ludes Dibagikan, Puncak Tradisi Buka Luwur Makam Sunan Kudus

Baca juga: Tiga Kios di Bogowanti Blora Dilalap Si Jago Merah, Ada yang Lupa Matikan Kompor

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved