Berita Kudus

Pandangan Eks Napiter Abu Tholut: Paham Radikal Sudah Menurun

Eks napi terorisme (napiter) Abu Tholut menilai paham radikal di Indonesia akhir-akhir ini sudah menurun.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: Catur waskito Edy

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – 

Baca juga: FPRB Karanganyar Mendorong Supaya Para Relawan Mendapatkan DilkatEks napi terorisme (napiter) Abu Tholut menilai paham radikal di Indonesia akhir-akhir ini sudah menurun.

Hal itu dipengaruhi oleh berbagai sebab,mulai dari kesadaran masyarakat sampai peran penting tokoh agama.

“Pandangan saya, paham radikal ini sudah banyak menurun seperti ISIS sudah tidak banyak menyolok. Kasusnya reda, banyak penurunan saya kira ini unsur masyarakat sudah menyadari tidak cepat terpengaruh oleh paham seperti itu.

Kedua kerja keras tokoh agama, karena itu kan pemikiran mengatasnamakan agama terutama kiai ustaz kontribusinya harus kita hargai,” kata Abu Tholut, Rabu (24/8/2022).

Sisa-sisa jaringan yang saat ini masih ada, katanya sulit berkembang. Misalnya Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang memiliki hubungan dengan ISIS saat ini sulit berkembang karena pusatnya di Irak dan Syuriah hancur.

Kemudian untuk jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pun saat ini dikatakan sangat kecil dan susah bergerak, karena sudah tidak mendapat simpati dari masyarakat.

Untuk itu, bagi mereka yang masih tergabung dengan jaringan atau kelompok radikal yang acap kali melakukan aksi teror, dia berharap agar bisa bertaubat.

“Kita itu tidak lepas dari dosa, sebagai muslim setiap hari harus bertaubat. Rasulullah saja setiap hari istigfar dan taubat 70 kali,” kata dia.

Diketahui Abu Tholut juga dikenal dengan nama Mustofa, Imron, dan Herman ini pernah menjadi sosok sentral dalam berbagai aksi teror di Tanah Air.

Dia pernah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang sejak 2004, kemudian pada 2007 dia bebas bersyarat. Setelah itu dia kembali ditangkap pada 2010 di rumahnya di Bae, Kudus. Karenanya dia mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kedungpane Semarang dan bebas pada 2015.

Abu Tholut ini merupakan sosok yang diperhitungkan pada waktu itu. Secara, dia juga punya kedekatan dengan Abu Bakar Ba’asyir.

Dia mengaku, posisinya di Jamaah Islamiyah waktu itu berada di bawah Abu Bakar Ba’asyir langsung.

“Beliau (Abu Bakar Ba’asyir) waktu itu jajaran pimpinan Jamaah Islamiyah otomatis dekat. Saya kan satu level di bawah beliau, saya diamanahi mengelola kawasan mantiqi 3 (kawasan Kalimantan, Sulawesi, dan Filipina). Itu saja kedekatannya, kedekatan organisasi,” kata dia.

Belakangan Abu Bakar Ba’asyir telah mengakui Pancasila. Bahkan pada 17 Agustus 2022, di Pesantren Al Mukmin Ngruki menggelar upacara  bendera untuk yang pertama kalinya.

Bagi Abu Tholut, tidak ada yang aneh bagi Abu Bakar Ba’asyir ketika kemudian bisa dan mampu mengakui Pancasila. Sebab, katanya, Abu Bakar Ba’asyir yang pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Gontor di sana tidak diajarkan paham radikal.

Kemudian, lanjutnya, Abu Bakar juga pernah aktif sebagai aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) juga tidak ada ajaran radikal seperti itu.

“Jadi ketika beliau (Abu Bakar Ba’asyir) awal dalam pergerakan Islam seperti itu. Itu (mengakui Pancasila) sebenarnya kembali saja. Namanya anak manusia ke kiri sedikit ke kanan sedikit,” katanya. (*)

Baca juga: Minimalkan Abrasi Mahasiswa Unissula Tanam Mangrove di Demak

Baca juga: Usai Bawa Persis Solo Raih Kemenangan Lawan Madura United, Rasiman Minta Maaf ke Warga Solo, Ada Apa

Baca juga: 73 Pelanggan PLN UP3 Kudus Ajukan Promo Program Tambah Daya Cuma Rp 170.845‎

TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE :

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved