Berita Feature

Nasib Perih Suparno Tukang Becak di Kota Lama Semarang, Mengayuh Sambil Menahan Lapar Seharian

Sembari duduk di atas becaknya, Suparno (68) menyaksikan keseruan para wisatawan yang tengah mengabaikan momen di Kawasan Kota Lama Semarang

Penulis: budi susanto | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Suparno satu di antara pengayuh becak di Kawasan Kota Lama Semarang, sedang menunggu wisatawan di Jalan Kepodang Semarang, Selasa (23/8/2022). 

"Sekarang tak ada lagi yang mau naik becak, beda saat pertama kali Kota Lama Semarang dibangun," terangnya.

Dilanjutkannya, awal kawasan wisata itu dikembangkannya ia bisa membawa pulang Rp 75 ribu dalam sehari.

"Sekarang tidak menentu, paling ramai saat akhir pekan, saya bisa dapat Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu, namun hanya akhir pekan," terangnya.

Penghasilan Suparno pun tak lebih dari Rp 200 ribu setiap pekannya.

Hasil tersebut harus dipotong untuk menyewa becak Rp 56 ribu setiap pekan.

"Saya tetap bersyukur dengan hasil yang saya dapat," terang Suparno.

Ia juga menceritakan beberapa tahun lalu, pengayuh becak Kota Lama Semarang sempat dilatih untuk melayani wisatawan.

"Tapi tidak ada dukungan dari pemerintah untuk kami, bahkan beberapa petugas sering melarang kami mangkal di kawasan ini," Imbuhnya.

Hari pun semakin sore, Suparno  berpamitan untuk bergegas pulang meski tidak ada wisatawan yang naik becaknya.

"Ini saya mau pulang ke Demak, numpang truk mas karena tidak ada pemasukan hari ini," tambahnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved