OPINI
OPINI : Buat Apa Kuliah?
WAKTU-WAKTU ini adalah fase mahasiswa baru sudah mulai aktif. Untuk mahasiswa baru pastilah diminta untuk mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus
Celakanya, banyak diantaranya tidak punya daya untuk membangun usaha. Jadilah mereka beraktifitas tanpa sesuai dengan harapan dan gairah kerja mereka. Lebih dramatis jika kelak ada data bahwa banyak orang dengan gelar sarjana dan magister yang tidak mampu berkompetisi.
Lalu akan menjadi pertanyaan terkait waktu sekolah yang telah mereka luangkan, biaya yang telah mereka keluarkan, dan energi yang mereka habiskan. Penulis tentu tidak berani bilang sekolah sampai tinggi itu tidak ada gunanya, hanya akan bilang terkait dengan efektifitas. Sebandingkah apa yang diupayakan dan apa yang didapat?
Seandainya mereka tidak kuliah apakah nasibnya pasti lebih buruk? Pertanyaan ini bisa kita renungkan bersama.
Kepangkatan
Kegelisahan kedua terkait dengan populasi pegawai yang sekolah untuk kebutuhan kepangkatan. Situasi di populasi ini sangat dilematis. Di satu sisi mereka dituntut memiliki gelar untuk kepentingan administratif, di lain sisi sudah tidak ada lagi semangat belajar. Ini akan menggiring pendidikan untuk dikapitalisasi agar dapat memfasilitasi orang-orang yang sangat butuh gelar namun mungkin tidak terlalu butuh ilmunya.
Tentu saya sangat yakin tidak semua orang demikian, tapi kita juga harus lapang dada mengakui bahwa ada (atau mungkin banyak) yang mengambil sikap demikian. Alasan-alasan seperti usia, sibuk bekerja, sedang menjabat, ataupun kewajiban mengurus anak digadaikan agar kemalasan belajarnya dimaklumi.
Gelar menjadi tidak sakral (walaupun seremonial tetap jalan) saat idealisme pendidikan sudah dapat ditawar-tawar. Marwah pendidikan runtuh dalam sekejap saat prosesnya sudah bisa dilalui dengan cara main mata.
Harus Kompetitif
Dalam perenungan yang lebih dalam, muncul pertanyaan, lalu bagaimanakah sebaiknya. Pendidikan sebaiknya menitikberatkan pada capaian-capaian yang diinginkan. Untuk masalah penguasaan kompetensi minimal seharusnya institusi pendidikan tidak boleh melakukan tawar menawar.
Orientasi terhadap kualitas lulusan harus mengalahkan kuantitas lulusan. Alasannya adalah karena jangan sampai kita mendesain fatamorgana dan kita tertipu sendiri oleh bias-bias indah yang kita buat. Mutlak bahwa lulusan perguruan tinggi di semua jenjang haruslah kompetitif sesuai dengan bidang keahliannya. Setuju? (*)
Baca juga: Mahfud MD Sampaikan Materi Wawasan Kebangsaan bagi Generasi Muda di Hadapan 4.388 Mahasiswa Baru USM
Baca juga: Pesulap Merah Santai Tanggapi Ancaman Rara Pawang Hujan: Itu Promosi Dia Saja
Baca juga: Keluhkan Harga BBM Naik, Driver Ojol di Pati Berharap Bisa Dapat Bantuan Subsidi Upah Pemerintah
Baca juga: Diharapkan Tumbuhkan Ekonomi, 80 Stan UKM Ramaikan Pekan Raya Cepu 2022
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-wisuda_20151106_134653.jpg)