Berita Banyumas
Perjuangan Warga AS Rene Lysloff Dokumentalis Lengger Banyumas, Berharap Arsip Budayanya Dirawat
Kesenian Tari Lengger di antaranya. Lengger bahkan ditetapkan sebagai Warisan Budaya tak Benda oleh Kementerian Pendidikan.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: rival al manaf
Ia berharap arsip yang dimilikinya dapat dilihat oleh anak cucu di Banyumas sebagai pewaris yang sesungguhnya, sekaligus melestarikan kesenian ini.
Dari kecintaannya kepada kebudayaan Jawa terlebih di Banyumas, ia mendapatkan kesempatan karir. Rene ingin membalas budi dengan ikut melestarikan kesenian di Banyumas melalui apa yang dimilikinya yakni arsip.
Stigma buruk yang disematkan pada seorang penari lengger menurutnya keliru. Seorang penari lengger sejatinya hanya untuk mencari uang saja sebagai penghasilan.
Ia menilai, masyarakat Banyumas harusnya berbangga karena memiliki banyak seniman hebat dengan kebudayaan yang masih kental.
"Jadi kebanggan orang Banyumas, hebat sekali keseniannya, lingkungan masyarakatnya juga punya budayawan," ucapnya.
Arsip milik Rene diamanatkan kepada Otniel sebagai putra asli Banyumas sekaligus pelaku seni, dan penggiat lengger. Saat ini Otniel sedang memperjuangkan arsip lengger yang diamanatkan kepadanya.
Arsip ini berupa kaset, suara, video, dan catatan yang dibawa dari Amerika ke Indonesia yang akan didigitalisasi nantinya.
“Sekarang sudah di Jogja disimpan pada salah satu rumah. Rencana mau dikembalikan ke Banyumas tapi tergantung usaha saya untuk bisa mengembalikan dan dukungan dari pemerintah,” ungkapnya.
Keberadaan arsip itu sangat penting baginya untuk lebih mengetahui sejarah lengger dari masa ke masa di Banyumas.
Itu membuatnya semakin termotivasi untuk melestarikan kesenian lengger. Hingga pada tanggal 23-25 Juni 2022, Otniel dapat mempersembahkan acara pertamanya yakni Jagad Lengger Festival (JLF) 2022 di komplek kawedanan Banyumas lama.
“Dalam acara pertama ini ingin membentuk penonton dengan sendirinya, bukan pada substansi, tapi lebih esensialnya. Jadi dari penonton yang datang itu memang keinginannya sendiri,” ungkapnya.
Meski sukses menyelenggarakan JLF 2022, perjuangan Otniel melestarikan lengger dengan dukungan arsip ini belum mendapat kejelasan dari dinas terkait. Otniel pernah menemui pihak Dinporabudpar untuk menyampaikan arsip yang dipercayakannya sekarang ini. Namun jawaban yang dia dapatkan belum sesuai harapan.
“Saya pernah ke bagian museum Dinporabudpar, saya ceritakan di dalamnya ada arsip wayang tahun 1980 an. Mereka hanya penikmat seni yang masuk ke dalam pemerintahan. Ya pantesan saya ngomong arsip mereka ngga nyambung. Padahal ini penting sekali,” jelasnya.
Perjuangan Rene Lysloff yang menghabiskan dana mencapai Rp 100 juta rupanya belum mendapatkan sambutan yang baik.
“Sampai orang yang dulu mengirimkan arsipnya ke Indonesia setelah itu meninggal, perjuangannya begitu luar biasa,” tambahnya.
Otniel tak patah semangat. Ia akan mencoba melobi kembali ke pemerintah yang lebih tinggi hingga Dirjen Kebudayaan. Selain itu, Otniel bersama timnya juga akan berupaya mencari jalan lain untuk mengupayakan agar arsip-arsip ini mendapatkan ruang.