Berita Jateng

Buka Pameran Batik, Ganjar: Pekalongan Harus Jadi Pusat Batik Dunia

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap Kota Pekalongan menjadi pusat batik dunia.

Penulis: hermawan Endra | Editor: rival al manaf
istimewa
Ganjar usai membuka Pameran Batik Nusantara 2022 di GOR Jetayu, Kota Pekalongan, Rabu (5/10/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap Kota Pekalongan menjadi pusat batik dunia.

Semua hal tentang batik dapat ditemukan di satu kota ini, mulai dari tempat belajar, membatik, sampai menjual batik.

"Saya berharap Kota Pekalongan bisa menjadi pusat batik dunia dengan harapan mau belajar apa saja ada."

"Belajar membatik datang ke sini, mendesain datang ke sini, melihat sejarah ada di sini, termasuk ketika mau kulakan juga ke sini, sehingga all about batik ada di Pekalongan," kata Ganjar usai membuka Pameran Batik Nusantara 2022 di GOR Jetayu, Kota Pekalongan, Rabu (5/10/2022).

Baca juga: Misteri Bangunan Menyerupai Makan di SMPN 38 Semarang, Diduga Petilasan Pandanaran 1

Baca juga: Polres Tegal Beri Penyuluhan Tentang Bahaya Narkoba Pada Komunitas Mama Hebat Desa Langgen Talang 

Baca juga: Hasil Lengkap Liga Champions Chelsea Bantai AC Milan, Real Madrid Sapu Bersih, Barcelona?

Menurut Ganjar potensi untuk menjadi pusat batik dunia sudah dimiliki oleh Kota Pekalongan yang memang mendapat julukan Kota Batik.

Sebab ada sekitar 47 ribu pembatik dengan 101 sentra batik.

Pameran Batik Nusantara itu juga menjadi momentum untuk menciptakan pusat batik dunia di Pekalongan.

"Kita musti dorong. Laporan dari Dinas Koperasi dan UMKM ada 47 ribu pembatik dengan 101 sentra batik."

"Maka fasilitasi dari pemerintah menjadi penting agar harapan itu terwujud," jelas Ganjar yang hadir dalam pembukaan pameran batik bersama istri, Siti Atikoh.

Di tengah perkembangan zaman ini, Ganjar juga mengajak para pembatik untuk memanfaatkan teknologi.

Sekarang ini teknologi sudah banyak ditemukan, baik untuk desain maupun produksi batik.

Tentu saja dengan tidak meninggalkan batik yang dibuat dengan canting karena value-nya juga sangat tinggi.

"Suka tidak suka, mau tidak mau, kita musti bergeser. Kita akan mendampingi mereka yang punya bakat membatik dan mendesain batik untuk menggunakan teknologi apa pun karena sekarang ini banyak sekali," katanya.

Selain penghuni teknologi, Ganjar juga mengajar para penjual batik untuk mulai memasarkan produk melalui digital. Untuk hal ini tentu harus ada perbaikan dan inovasi desain dan cara pemasaran. 

"Kita musti masuk ke dunia digital, pemasarannya harus mulai pakai digital. Maka desain harus diperbaiki, cara menampilkan produk juga harus dengan foto yang bagus. Ini harus dilatih," ungkap Ganjar.

Baca juga: Klasemen Liga Champions Setelah Chelsea Permalukan AC Milan, Grup E Lebih Panas Dari Grup Neraka

Baca juga: Miris! 5 Bocah di Demak Ditangkap Polisi Karena Mencuri Sepeda Motor

Baca juga: Karang Taruna Desa Tlogorejo Grobogan Ingin Majukan Prestasi Olahraga dan Kemandirian Pemuda

Guna mendukung perbaikan dna inovasi desain batik, Ganjar berharap lebih banyak sekolah yang menyediakan pendidikan desain.

Sebab desainer harus ada peremajaan sehingga model-model yang dihasilkan beragam.

"Saya kira harus ada sekolah desain. Khusus desain batik sih tidak tapi bisa melalui penjurusan, salah satunya jurusan desain batik."

"Penting itu didirikan dna harus ada di Kota Pekalongan. Saat ini sudah ada di perguruan tinggi, tinggal lebih banyak workshop-nya sehingga semua orang bisa belajar di situ," katanya didampingi Walikota Pekalongan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved