Opini

Opini Agung Sudarmanto: Wayang Kulit Durasi Satu Jam

TANGGAL 7 Nopember adalah Hari Wayang Nasional. Dicanangkannya hari tersebut diharapkan mampu mendorong pekerja seni dan budayawan memacu kreativitas

Editor: m nur huda
Tribun Jateng
Opini Ditulis Oleh dr. Agung Sudarmanto, MM (Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia Kota Semarang) 

Opini Ditulis Oleh dr. Agung Sudarmanto, MM (Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) Kota Semarang)

TRIBUNJATENG.COM - TANGGAL 7 Nopember adalah Hari Wayang Nasional. Dicanangkannya hari tersebut diharapkan mampu mendorong pekerja seni dan budayawan memacu kreativitas dan inovasi yang dimilikinya, khususnya dalam dunia pewayangan agar Indonesia layak menjadi “Rumah Wayang Dunia”.

Harapan tersebut bukanlah “menggantang asap”, karena tanggal 7 Nopember 2003 wayang telah diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Dirumatnya kesenian wayang dengan bumbu - bumbu kreativitas dan inovasi dimaksudkan agar wayang Indonesia tidak sekedar untuk mendapatkan legitimasi dunia sebagai Rumah Wayang Dunia atau sekedar menjadi tontonan masyarakat. Namun juga sebagai tuntunan pembentukan karakter bagi generasi muda dikarenakan di dalam lakon wayang terdapat nilai-nilai yang patut diteladani.
Kondisi saat ini

Dicanangkannya Hari Wayang Nasional diharapkan perkembangan wayang di Indonesia semakin bertenaga sehingga dapat “selangkah lebih maju” dibanding wayang-wayang lain yang ada di luar negeri. Namun untuk mewujudkannya bukan persoalan gampang karena dunia seni pewayangan, termasuk wayang kulit Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai masalah serius menuju kebangkrutannya apabila tidak ada upaya penyelamatan yang ekstra keras.

Sepinya penonton wayang menjadi salah satu “keluhan utamanya”. Manusia mempunyai motto time is money, ora obah ora mamah, waktu hidupnya dihabiskan untuk mencari uang, waktu dan rebahan kelelahan. Kegemarannya melihat wayang menjadi dinomorsekiankan.

Banyak juga yang terpaksa memangkas waktu istirahatnya demi mendapatkan uang. Anak-anak muda disibukkan dengan kuliah/ sekolah, mengejar prestasi dan ditambah lagi dengan berbagai godaan alternatif hiburan lain yang lebih menarik, lebih trendy.

Panjangnya durasi pementasan juga dianggap salah satu faktornya. Orang sudah tidak lagi memiliki kesabaran menunggu berlama-lama menonton wayang seperti di waktu lampau. Hanya ingin “mendengarkan” dan menunggu kemunculan goro-goro saat dini hari karena absensi tempat kerja/sekolahnya “mengharamkan” keterlambatan dan kondisi kesuntukan.

Untuk menggelar pementasan wayang kulit penyelenggara perlu merogoh kocek lumayan banyak. Alokasi dana itu antara lain untuk “apresiasi” dalang, pangrawit, pesinden, biaya sewa dresscode, sound system, sewa tempat dan perangkat gamelan, lighting, layar, dekorasi, “sesajen” dan uba rampe-nya.

Bahasa yang digunakan dalang termasuk sulit atau nggak gampang dipahami orang-orang saat ini, sehigga bahasa dalang bisa menjadi salah satu “daya ulur”. Karena kurang/ tidak paham bahasa yang dikomunikasikan menjadikan kandungan filosofis wayang menjadi hambar. Kehambaran ini tentunya juga berpengaruh pada mengempisnya minat ketertarikan penonton.

Derasnya arus budaya popular yang digarap apik “sekuat tenaga” dengan berbagai pendekatan yang sesuai dengan segmentasi pasar, sesuai kebutuhan dan kondisi riil masyarakat menjadikan pagelaran wayang semakin tak berdaya. Hal ini tidak berarti para pengusung budaya popular “kong kalikong” bersatu padu melumpuhkan kehidupan wayang. Merekapun juga saling bertarung memperebutkan “ceruk pasar”-nya.

Mencari Bentuk

Saat ini sudah mulai muncul kreativitas dan inovasi dalam pagelaran wayang. Beberapa pagelaran wayang “gagrag anyar” sudah nampak “dilahirkan”. Pembaruan antara lain dari alur dan tema cerita yang disesuaikan kondisi saat ini, intonasi dan “perilaku” dalang saat perform.

Mengombinasikan wayang kulit dengan wayang wong (Wayang Kulit Wong), menambah instrumen diatonis dan perkusi band seperti drum, ketipung, memperkaya “kelir” dengan teknologi multimedia terkini, menambah kekuatan dentum sound dan lighting, menggandeng “orang bule” menjadi pesinden dan sebagainya hingga mengundang artis dan komedian untuk memperkuat “daya tarik” pertunjukan.

Guna memperkuat posisi Indonesia benar-benar sebagai “Rumah Wayang Dunia” maka daerah operasi wayang perlu diperlebar hingga mampu menggaet para turis mancanegara. Para warga pemilik “waktu luang yang sempit”, para mahasiswa/ pelajar dan lain-lain.

Jikalau terdapat pagelaran wayang dengan durasi 1 jam misalnya, tanpa menghilangkan kandungan nilai luhurnya, barangkali dapat menjadi langkah alternatif, terlebih apabila pemilihan bahasa yang gampang dipahami. Setting panggung termasuk tata lampu dibenahi, dan pembenahan kelengkapan even yang memanjakan mata telinga penonton.

Perlu dicatat di sini, beberapa pekerja seni di gedung Cagar Budaya Sobokartti Semarang beberapa kali membuat eksperimen pagelaran wayang kulit durasi 1 (satu) jam dengan sinopsis bahasa Inggris. Mudah-mudahan upaya yang dikerjakannya menjadi salah satu langkah dongkrak alternatif untuk “menghidupkan” wayang.

Pornrat Damrhung dalam Seni Pertunjukan, Misi dan Masalah Komunikasi Kondisi Interkultural Kita (2002) antara lain mengatakan bahwa untuk mengembalikan agar pertunjukan tradisional memiliki hubungan kerja dengan penonton masa kini diperlukan proses kerjasama antara seniman, guru, pengusaha, peneliti, sejarawan, produser, manajer, serta akademisi dan birokrat.

Proses ini, kata Damrhung, lebih terfokus pada proses artistik dari produk, interaksi kultural serta pertukarannya. Dan, semakin banyak orang yang telibat dalam proses ini akan semakin besar hasil budayanya. Barangkali saran Damrhung ini perlu didengar dengan seksama. Selamat Hari Wayang Nasional. Semoga wayang tidak sekedar tontonan namun juga tuntunan hidup bagi masyarakat Indonesia dan dunia. (*tribun jateng cetak)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved