Citizen Journalism
Dua Kejadian: Memalukan Dan Memilukan
Ketika Senin malam panitia dan peserta sedang bahagia mengadakan seremonial penutupan MITE, tiba-tiba muncul berita OL adanya kericuhan Munas HIPMI
Perbedaan diantara keduanya, adalah :
• Muktamar diikuti jutaan orang penggembira sedangkan Munas tanpa penggembira;
• Semua kandidat PP Muhammadiyah tidak mempunyai timses, semua calon Ketum BPP-HIPMI memiliki timses dan pendukung loyal;
• Muktamar berlangsung di Edutorium UMS (AUM/milik sendiri), Munas dilaksanakan di hotel Alila (bukan milik HIPMI);
• Muktamar memakai batik yang beragam, Munas mengenakan pakaian batik yang seragam.
• Muktamar menyenangkan dan membahagikan peserta, peninjau, relawan dan penggembira. Sedangkan Munas membuat peserta dan peninjau kecapekan sehingga memantik emosi diantara mereka.
Ketika Senin malam panitia dan peserta sedang bahagia mengadakan seremonial penutupan MITE di panggung utama, tiba-tiba muncul berita OL adanya kericuhan, adu jotos di arena Munas HIPMI.
Disambung beragam tayangan video pendek 10-20 detik adegan baku hantam beberapa peserta Munas dari berbagai sosmed. Pelaku memakai kemeja batik yang seragam, meski saya yakin niat, emosi dan kesabaran pelaku beragam.
Panitia menjelaskan bahwa kejadian itu dipicu akibat peserta dan peninjau kelelahan mengikuti sidang sejak pagi hingga malam. Sebuah narasi yang menurut kami tidak tepat.
Toh mereka bersidang di hotel berbintang yang sejuk udaranya dengan fasilitas maksimalis. Bandingkan dengan muktamar bersidang bukan di hotel dengan fasilitas sederhana dan apa adanya, tapi susananya menyejukkan hati.
Keesokan pagi, Selasa 22/11/2022, Walikota Surakarta Gibran berkomentar, sebagaimana dikutip beberapa media, intinya "Contohlah muktamar Muhammadiyah yang diikuti jutaan orang bisa tertib, aman dan damai, mosok HIPMI tidak bisa menirunya".
Sebagai mantan anggota HIPMI daerah dan Ketua Kadin Kendal (2005-2015), saya pribadi ikut kecewa dengan kejadian yang memalukan organisasi HIPMI. Apalagi keributan di forum Munas sangat cepat menjadi viral di era teknologi informasi.
Akibatnya bisa mengganggu "brand image" HIPMI sebagai wadah pengusaha muda Indonesia yang bercitra baik selama ini.
"Sesalkan apa yang musti disesalkan, tapi jangan kelewat putus asa". Begitu bunyi bait puisi WS Rendra dalam "Bersatulah Pelacur Ibukota". Kita semua menyesalkan kejadian memalukan di Munas HIPMI. Tetapi masih ada jalan untuk memperbaiki keadaan.
Sebagaimana firman Allah dalam Qs Ali-Imron 133-134 : "Dan bersegeralah kamu meminta ampunan dari Tuhanmu yang memiliki surga seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa".
" (yaitu) orang yang berinfaq disaat lapang atau sempit, dan orang-orang yang mampu menahan amarah-nya dan orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/hafid-oke-oke.jpg)