Berita Kudus

DPKPLH Kudus Tangani 25.031 Ton Sampah Sepanjang 2022, Diklaim Turun 24 Persen

Kepala Dinas PKPLH Kudus, Abdul Halil mengatakan, produksi sampah di Kota Kretek pada tahun ini mengalami penurunan 24 persen

Penulis: Saiful Ma'sum | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Saiful Ma'sum
Kondisi TPA sementara di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus mulai penuh sampah karena TPA yang dikelola Pemkab Kudus ever load, Kamis (15/12/2022). 

TRIBUNMURIA.COM, KUDUS - Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kudus mendata, produksi sampah di Kota Kretek pada 2022 diperkirakan mencapai 43.000 ton dalam setahun, dengan rata-rata 120 ton per hari yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 

Sepanjang Januari-November, DPKPLH mencatat, hanya bisa menangani 25.031 ton sampah, sisanya dibuang langsung warga ke TPA.

Kepala Dinas PKPLH Kudus, Abdul Halil mengatakan, produksi sampah di Kota Kretek pada tahun ini mengalami penurunan 24 persen.

Namun demikian, sampah yang diproduksi oleh masyarakat Kudus masih cukup tinggi, apalagi kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo sudah mencapai batas maksimum.

Dia menyebut, volume sampah yang ada didominasi sampah jenis domestik atau rumah tangga. Pihaknya bakal terus berupaya menekan jumlah produksi sampah hingga 30 persen pada 2025 mendatang. Dengan cara, memilah dan memproses sampah langsung dari sumbernya. 

"Untuk sampah yang kami tangani ada penurunan sebesar 24 persen dari periode tahun kemarin. Ini belum secara keseluruhan, baru sampah yang bisa kami tangani. Targetnya penurunan produksi sampah secara menyeluruh hingga 30 persen pada 2025," terangnya, Jumat (16/12/2022).

Halil merinci, produksi sampah di Kota Kretek mencapai 120 ton per hari dan masuk ke TPA. Dari jumlah tersebut, hanya 57 ton yang bisa ditangani DPKPLH setiap harinya, sisanya dibuang secara liar ke TPA tanpa adanya pemilahan. 

Pihaknya bakal memaksimalkan program yang ada untuk bisa menekan angka produksi sampah

Meliputi, pemanfaatan pusat daur ulang (PDU) yang berlokasi di Kelurahan Wergu Kulon dekat Pasar Baru Kudus yang bisa mengolah hingga 10 ton sampah organik dan anorganik per hari. 

Selain itu, lanjut dia, program pemilahan sampah langsung dari masyarakat bakal digencarkan. Dimaksudkan untuk menyortir jenis sampah yang bisa didaur ulang dan dibuang ke TPA. 

"Dengan penyortiran ini, maka sampah yang dibuang ke TPA adalah jenis sampah yang tidak bisa didaur ulang," ujarnya.

Halil menyebut, pihaknya juga bakal memaksimalkan adanya bank sampah untuk membantu menangani persoalan persampahan. Termasuk rencana program pendirian tempat pemilahan dan pemrosesan sampah yang bisa dimaksimalkan di tiap-tiap desa atau kelurahan. 

DPKPLH Kudus juga mempunyai program buang sampah bayar sampah yang bisa mengatasi persoalan sampah. Yaitu sampah-sampah anorganik yang terkumpul bisa dijual, dan hasilnya digunakan untuk membayar retribusi. 

Selain itu, katanya, Pemkab Kudus juga bekerjasama dengan PT Djarum dalam mengolah sampah organik. Sehingga, beberapa program tersebut bisa mengurangi beban TPA yang sudah mencapai overload. 

"Kami juga giatkan edukasi kepada masyarakat tentang pemilahan sampah yang baik dan benar. Selain itu juga edukasi warga agar membiasakan diri menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan," tuturnya. 

Diketahui, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo, Kabupaten Kudus yang memiliki luas lahan 5,6 hektare, saat ini dalam kondisi penuh. Sehingga membutuhkan tambahan lahan untuk bisa memperpanjang umur TPA. 

Pemerintah Kabupaten Kudus sudah mengusulkan program perluasan TPA pada 2023 setelah melalui pembahasan dengan pemerintah provinsi dan pusat. Rencananya, Pemkab Kudus bakal mengalokasikan anggaran senilai Rp 5 miliar dari dana cukai untuk memperluas TPA. (Sam) 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved