Tribun Sejarah
Semarang Tempo Dulu : Mengenang Sekolah Rakyat di Kota Semarang
Sekolah Rakyat (Volkschool) atau sering dikenal dengan SR, berkontribusi besar dalam dunia pendidikan di Kota Semarang.
Penulis: budi susanto | Editor: Catur waskito Edy
"Yang ikut belajar dari kalangan masyarakat biasa, namun ada juga dari keluarga Tionghoa kaya," tuturnya, Kamis (5/1/2023).
Dilanjutkan, para pelajar di SR masih jarang yang memakai sepatu.
Pasalnya, harga sepatu sangat mahal saat itu.
Namun, para pelajar di zamannya punya niat belajar tinggi.
"Jarang ada yang terlambat, bahkan sebelum guru datang murid-murid sudah menunggu di kelas," ucapnya.
Adapun Jumani (73) warga Gajahmungkur Kota Semarang, yang pernah belajar di SR Petompon menjelaskan, banyak orang tua patungan untuk agar SR dibangun di daerahnya.
Seperti di SR Petompon, para orang tua patungan agar ada SR di wilayah Gajahmungkur.
"Ada yang patungan Rp 5 rupiah sampai Rp 500. Orang tua saya juga ikut patungan, supaya saya bisa mengenyam pendidikan," tambahnya.
Dari catatan yang termuat dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, SR mulai dihilangkan saat orde baru dan diganti dengan SD. (*)
Baca juga: Fokus : Tilang Manual Lagi
Baca juga: Dongeng Anak Sebelum Tidur Kisah Penggembala dan Sebuah Seruling
Baca juga: KISAH NYATA : Pengakuan Polos Malika Rasanya Hidup Bareng Iwan Sang Penculik
Baca juga: Liputan Khusus : Guru Kesulitan Awasi Pelajar Merokok di Luar Sekolah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Sekolah-Rakyat-Semarang.jpg)