OPINI

OPINI Prof Saratri Wilonoyudho : Peta Kependudukan Jateng 2023

AWAL tahun 2023 tampaknya kondisi perekonomian Provinsi Jawa Tengah mulai membaik, yakni pada triwulan III/2022 tumbuh sebesar 5,28 persen

TRIBUNJATENG/CETAK
Opini ditulis oleh Prof Dr Ir Saratri Wilonoyudho, MSi 

oleh Prof Dr Ir Saratri Wilonoyudho M.Si
Sekretaris Dewan Riset Daerah dan Ketua Koalisi Kependudukan Jateng


AWAL tahun 2023 tampaknya kondisi perekonomian Provinsi Jawa Tengah mulai membaik, yakni pada triwulan III/2022 tumbuh sebesar 5,28 persen (year-on-year) atau lebih tinggi dari pada triwulan I/2022 (5,13 persen).

Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2022 sebesar 5,57 persen atau turun sebesar 0,18 persen poin dibandingkan Februari 2022 (5,75 persen).

Akan tetapi jika dilihat dari persentase penduduk yang bekerja terhadap penduduk Usia Kerja terjadi penurunan, yaitu dari 67,90 persen pada Februari 2022 menjadi 66,90 pada Agustus 2022.

Jumlah angkatan kerja pada Februari 2022 sebanyak 20,76 juta orang, bertambah 1,93 juta orang dibanding Februari 2021. Dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja meningkat 2,65 persen poin, menjadi 72,04 persen. Penduduk bekerja sebanyak 19,57 juta orang, meningkat 1,86 juta orang.

Yang menggembirakan, ada peningkatan proporsi pekerja penuh. Tren pekerja penuh meningkat dari 68,27 persen pada Agustus 2021 menjadi 71,41 persen pada Agustus 2022. Sepanjang Februari 2022 sampai dengan Agustus 2022, Pekerja di sektor industri pengolahan naik dari 20,03 persen menjadi 21,89 persen, sektor Perdagangan naik dari 17,95 persen menjadi 19,39 persen, sektor Konstruksi naik dari 7,84 persen menjadi 8,06 persen, dan Sektor Jasa lainnya naik dari 3,81 persen menjadi 4,44 persen.

Era Bonus Demografi juga dialami Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan data Dukcapil, jumlah penduduk Jawa Tengah sebanyak 37,49 juta jiwa pada Juni 2022. Dari jumlah tersebut, sebanyak 25,99 juta jiwa (69,34 persen) penduduk adalah kelompok usia produktif (usia 15-64 tahun).

Terdapat pula 11,5 juta jiwa (30,66 % ) penduduk Jawa Tengah yang masuk kelompok usia tidak produktif. Rinciannya, ada 8,48 juta jiwa (22,62 % ) yang masuk kelompok usia belum produktif (0-14 tahun) dan terdapat pula 3,02 juta jiwa (8,05 % ) masuk kelompok usia sudah tidak produktif (65 tahun ke atas).

Dengan data jumlah penduduk tersebut, rasio ketergantungan (dependency ratio) Jawa Tengah sebesar 44,23 % pada Juni 2022. Artinya, setiap 100 jiwa penduduk usia produktif menanggung 44-45 jiwa penduduk usia tidak produktif.

Ini berarti Jawa Tengah sudah berada dalam Bonus Demografi. Bonus demografi akan menjadi berkah jika penduduk usia produktif bekerja dengan pendapatan yang baik, sehat dan memiliki keterampilan dan kecerdasan yang baik pula.

Penduduk Miskin

Meskipun perekonomian sudah membaik, namun jumlah Penduduk Miskin pada September 2022 masih sebesar 3,86 juta orang, naik 26,79 ribu orang terhadap Maret 2022 dan turun 75,78 ribu orang terhadap September 2021.

Persentase Penduduk Miskin pada September 2022 sebesar 10,98 persen, naik 0,05 persen poin terhadap Maret 2022 dan turun 0,27 persen poin terhadap September 2021.

Tingkat kemiskinan perdesaan sudah kembali ke level sebelum pandemi, sedangkan perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemic.

BPS melaporkan, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Provinsi Jawa Tengah yang diukur menggunakan rasio gini sebesar 0,366 pada September 2022. Angka tersebut turun 0,018 poin dibandingkan pada Maret 2022 yang sebesar 0,374.

Berdasarkan daerah tempat tinggalnya, rasio gini di perkotaan tercatat sebesar 0,392 pada September 2022. Nilai tersebut turun dibandingkan pada enam bulan sebelumnya yang sebesar 0,404.

Sementara, rasio gini di perdesaan terpantau sebesar 0,326. Angkanya naik 0,004 poin dibandingkan pada Maret 2022 yang sebesar 0,322.

Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran nasional di kelompok 40 % terbawah sebesar 17,78 % . Artinya, pengeluaran penduduk berada di kategori tingkat ketimpangan rendah pada September 2022.

Jika dilihat dari klasifikasi daerahnya, persentase pengeluaran nasional di kelompok 40 % terbawah di perkotaan dan perdesaan masing-masing sebesar 17,78

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved