OPINI
OPINI Dr Aloys Budi Purnomo : Belas Kasih Salib Kristus
Sejak Minggu (2/4) hingga Minggu (9/4), umat Kristiani berada dalam masa Pekan Suci Paskah. Hari Jumat (7/4) dalam penanggalan kita tertulis
Oleh Dr Aloys Budi Purnomo
Pengajar Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata Semarang
Sejak Minggu (2/4) hingga Minggu (9/4), umat Kristiani berada dalam masa Pekan Suci Paskah. Hari Jumat (7/4) dalam penanggalan kita tertulis sebagai hari wafat Yesus Kristus.
Penetapan tanggal tersebut berlaku dalam konteks nasional maupun global. Tradisi Katolik menyebutnya Jumat Agung. Umat Kristiani di seluruh dunia mengenang wafat Yesus Kristus.
Dalam ibadah Katolik, pada hari Jumat Agung dibacakan kutipan Kitab Yesaya 52:13-53:12, yang dapat dirangkum sebagai berikut. Yesaya menubuatkan penderitaan dan kematian ”Hamba Allah” yang tujuh abad kemudian terjadi dalam Yesus. Menurut Yesaya, ia dihina dan dihindari orang, penuh kesengsaraan, dan menderita kesakitan.
Dengan gambaran tersebut, Yesaya menjelaskan bahwa sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya. Kesengsaraan kitalah yang dipikulnya.
Sementara kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah; sesungguhnya, dia ditikam karena pemberontakan kita. Dia diremukkan karena kejahatan kita. Namun, deritanya mendatangkan keselamatan bagi kita. Oleh bilur-bilurnya kita disembuhkan!
Di sinilah, salib Kristus mempersembahkan kurban silih dan melaksanakan kehendak Allah. Sesudah kesusahan jiwanya, ia akan melihat terang dan dinyatakan sebagai orang yang benar.
Bahkan, karenanya, ia akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya dengan memikul kejahatan semua orang. Dalam belas kasih Salib Kristus, ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut demi menanggung dosa banyak orang, bahkan menebus dunia!
Kemalangan
Gambaran tentang ”Hamba Allah” yang menderita seperti dinubuatkan Yesaya dan di kemudian hari digenapi Yesus Kristus merangkum kemalangan hidup manusia.
Kemalangan manusia akibat dosa, kebencian, kejahatan, dan kebengisan merupakan realitas manusia sepanjang sejarah hingga saat ini. Secara linguistik teologis, kemalangan manusia itu disebut misery, great suffering, dan agony.
Dalam kemalangannya, manusia kehilangan keindahan karena dihina, ditolak, dan disiksa, diperlakukan secara keji, kejam dan bengis hingga tak terbayangkan duka derita yang ditanggungnya.
Misery sebagai manusia tergambar dalam kehidupan yang hancur dan remuk redam, bukan hanya secara fisik, melainkan juga secara psikis.
Dalam konteks salib Kristus, misery itu terjadi ketika Yesus Kristus disalibkan oleh orang-orang yang dikasihi-Nya, dicerca dan disiksa oleh bangsa yang diselamatkan-Nya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/aloys-budi-purnomo.jpg)