OPINI
OPINI Dr Aloys Budi Purnomo : Belas Kasih Salib Kristus
Sejak Minggu (2/4) hingga Minggu (9/4), umat Kristiani berada dalam masa Pekan Suci Paskah. Hari Jumat (7/4) dalam penanggalan kita tertulis
Yesus Kristus yang tersalib mengalami tubuh yang hancur, wajah yang rusak, bahkan mental spiritual yang merana hingga Yesus berseru, ”Eli, Eli, Lamasabachtani, Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”
Dalam konteks kehidupan aktual, misery sebagai kemalangan manusia tergambar dalam kematian Brigadir J yang menghebohkan masyarakat kita beberapa saat lalu.
Atau, kematian Paulus Iwan Budi Prasetijo yang bahkan, hingga saat ini kasusnya belum mendapatkan kejelasan penyelesaian secara hukum terhadap pelakunya yang keji, kejam, dan bengis.
Kemalangan manusia juga tergambar dalam kasus penganiayaan David oleh Mario bersama teman-temannya. Kemalangan manusia begitu dekat di depan mata kita yang membuat kita manusia menanggung kesakitan dan penderitaan jiwa dan raga!
Belas kasih
Dalam perspektif salib Kristus, misery sebagai kemalangan manusia bukanlah akhir. Di penghujung kemalangan terdapat belas kasih. Secara teologis, misery memuncak pada misericordia, yakni hati Allah yang penuh belas kasih.
Kemalangan manusia berakhir dengan kemenangan belas kasih Allah. Itulah sebabnya, salib Kristus tak hanya menggambarkan kekejaman kemalangan manusia, melainkan kemenangan belas kasih Allah yang menebus dan menyelamatkan manusia dan seluruh alam semesta!
Teologi belas kasih salib Kristus mengajarkan bahwa wafat Yesus di kayu salib Golgota telah meruntuhkan tirai yang memisahkan manusia dengan Allah. Belas kasih salib Kristus membuka pintu kerahiman Allah bagi dunia.
Bahkan, Allah berkenan masuk ke kedalaman hati kita yang berlumuran dosa hingga kita berani dengan rendah hati mengakui kesalahan-kesalahan dan kecenderungan-kecenderungan dosa, yang dalam cara tertentu telah menganiaya dan menyalibkan Yesus, melalui tindakan-tindakan kita yang berlawanan dengan kasih dan kebenaran.
Belas kasih salib Kristus menyadarkan bahwa akar-akar kejahatan yang ada dalam hati kita sama dengan yang ada dalam hati orang-orang yang menganiaya dan menyalibkan Yesus.
Kita sebagai manusia berada dalam kekuatan keangkuhan, rasa benar, egoisme, iri hati, keserakahan, kemunafikan, semua nafsu daging yang membuat manusia lupa siapa dirinya dan siapa Allah.
Manusia melupakan Allah, Sang Pencipta segala yang ada. Manusia lupa jatidirinya sebagai hanyalah setitik debu. Kealpaan dan kelupaan manusia dalam dosa menjadikan manusia terjebak dalam kemalangannya, bahkan menjadi raja tega bagi sesamanya sendiri melalui tindakan yang kejam dan keji. Hati nuraninya menjadi kabur oleh kejahatan dan kekuasaan duniawi.
Belas kasih salib Kristus menghadirkan pelukan antara misery dan misericordia sebagai anugerah keselamatan bagi umat manusia dan alam semesta. Martabat seluruh manusia sebagai ciptaan dicintai dan diangkat oleh Allah untuk mendapat bagian dalam kemuliaan-nya.
Maka, belas kasih salib Kristus sebagai perjumpaan misery dan misericordia seharusnya mendorong kita menghargai martabat sejati setiap menusia, menyelesaikan kasus hukum secara adil, dan menumbuhkan sikap ramah serta peduli lingkungan yang hancur oleh ketamakan manusia. Selamat memasuki Pekan Suci Paskah bagi yang merayakannya! [*]
Baca juga: FOKUS : Investasi Gaib ala Dukun Penggandaan Uang
Baca juga: Ganjar Komitmen Kembangkan Ekonomi, Keuangan dan Pelayanan Kesehatan Syariah
Baca juga: 5 Potret Zee JKT48 Anak Presenter Fadli Muhammad, Jadi Pemeran Ancika di Film Dilan Terbaru
Baca juga: Prakiraan Cuaca Tegal Raya Selasa 4 April 2023, Waspada Hujan Petir di Malam Hari
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/aloys-budi-purnomo.jpg)