Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Wonosobo

Kisah Gus Vava Mahasiswa Asal Wonosobo Ceritakan Ketegangan di Sudan, Proses Evakuasi Dramatis

Gus Vava kini sudah bernapas lega karena dapat berkumpul bersama keluarga di Wonosobo selepas perjalanan panjang dari Sudan.

Tayang:
Penulis: Imah Masitoh | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/IMAH MASITOH
Ahmad Muqovva (Gus Vava) mahasiswa asal Wonosobo yang menempuh pendidikan di Sudan saat menceritakan situasi perang di sana, Jumat (5/5/2023). 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Ahmad Muqovva kini bisa bernafas lega telah kembali berkumpul di tengah-tengah keluarganya di Wonosobo, setelah berhasil dievakuasi dari konflik panas yang terjadi di Sudan.  

Akrab dipanggil Gus Vava, merupakan putra KH Chaedar Idris, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Manshur Wonosobo yang sedang menempuh pendidikan S1 di International University of Africa, Sudan sejak 2019. 

Gus Vava harus bersabar menunggu kabar terkait kelanjutan pendidikannya yang hanya butuh 1 semester lagi untuknya bisa lulus, lantaran konflik yang belum usai di Sudan

Bersama dua mahasiswa lainnya asal Wonosobo, Gus Vava tiba di rumah orangtuanya pada Rabu (3/5/2023) malam. 

Baca juga: Gandeng Pegiat Sampah, Pemkab Wonosobo Terus Upayakan Berbagai Solusi Penanganan Sampah

Kepada Tribunjateng.com, Jumat (5/5/2023), Gus Vava menceritakan bagaimana situasi mencekam di Sudan hingga akhirnya dapat dievakuasi dari daerah perang tersebut. 

Gus Vava mengungkapkan, gencatan senjata perang di Sudan telah terjadi sejak 15 April 2023 saat bulan Ramadan. 

"Tiba-tiba ada suara ledakan di daerah ibu kota."

"Jarak dengan tempat saya tinggal, sekira 15 kilometer."

"Seketika itu langsung media menyebarkan berita ada penyerangan," ungkapnya. 

Sejak saat itu situasi di Sudan berubah total tidak ada aktivitas orang-orang seperti biasanya lantaran takut untuk keluar rumah. 

Hari Raya Idulfitri yang hanya dirayakan setahun sekali pun dirayakan tidak seperti biasanya.

Tradisi salat Ied masyarakat Sudan yang terbiasa di lapangan kali ini harus dilaksanakan di masjid atau ruangan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. 

"Sejak perang tidak ada aktivitas termasuk di kampus, semuanya mati total, jalan-jalan kosong," ucapnya. 

Baca juga: 3.301 Anak Tidak Sekolah, Pemkab Wonosobo Launching Program Mayo Sekolah 2023

Keterbatasan akses untuk membeli kebutuhan makanan juga dirasakannya, lantaran tempat-tempat menjual makanan tutup. 

Hari-hari dilalui dengan penuh kekhawatiran, dentuman keras, suara tembakan, hingga suara jet berlalu lalang selalu terdengar setiap harinya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved