Opini
Opini Paloma Paramita: Generasi Z Menjadi Aset atau Ancaman Bagi Perusahaan?
GENERASI Z kategori kelahiran 1997-2013 memasuki dunia kerja dengan rentang usia 22-26 di tahun 2023. Dari hasil survei Deloitte Global (2022) ada tig
Penulis: iswidodo | Editor: m nur huda
Program ini merupakan program penting sebagai bentuk proses pengenalan perusahaan yang komprehensif bagi seluruh pekerja baru. Melalui program ini, pemimpin mendapatkan kesempatan untuk menjalin hubungan positif sejak dini. Informasi tentang perusahaan, seperti misalnya jenjang karir dan penilaian kinerja merupakan informasi penting untuk disampakan pada program ini. Kepastian dan informasi yang jelas sangat dibutuhkan saat Gen Z memasuki lingkungan kerja baru.
2) Workplace Coaching.
Coaching merupakan proses one-on-one antara Gen Z sebagai pekerja baru dan pemimpin. Pemimpin memiliki kesempatan untuk mendampingi Gen Z sehingga mampu menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya. Pemimpin dapat memberikan arahan yang jelas serta menciptakan proses untuk saling berdiskusi dan memberikan umpan balik. Melalui diskusi, Gen Z dapat mencetuskan ide-ide kreatif. Saat ide Gen Z dihargai dan dilakukan sebagai rencana kerja dalam penyelesaian tugasnya, sebagai pekerja baru Gen Z merasa memiliki makna (meaningful) bagi perusahaan.
Untuk mengurangi kecemasan di tempat kerja, pemimpin dapat membantu Gen Z untuk mendapatkan rasa otonomi pada diri mereka Pemimpin dapat mengajak mereka untuk mau memiliki tanggungjawab lebih besar dalam penyelesaian tugas dan membuat lebih banyak keputusan atas dasar pemikiran mereka sendiri. Selain itu, pemimpin dapat mendukung pola pikir Gen Z dengan menyediakan proses pembelajaran kontinyu dan menciptakan budaya umpan balik.
3) Manajemen Karir
Gen Z berharap perusahaan dapat objektif dalam melakukan penilaian kinerja serta memberikan kesempatan promosi bagi seluruh pekerja, termasuk pekerja baru. Mereka lebih menyukai apabila dianggap setara di lingkungan kerja, bahkan dengan pekerja senior. Senioritas bagi mereka akan menjadi hal positif pemikirannya berguna untuk mendukung penyelesaian tugas.
Manajemen karir merupakan hal penting yang harus dimiliki perusahaan. Perusahaan dapat melakukan pemetaan sumber daya manusia berdasarkan penilaian kinerja dan kompetensi. Saat Gen Z memiliki kinerja dan kompetensi yang diharapkan, mereka mendapatkan kesempatan yang sama dengan pekerja senior untuk promosi. Melalui manajemen karir, perusahaan dapat menyediakan program pelatihan dan pengembangan berbasis kompetensi. Sehingga saat Gen Z akan promosi sebagai pemimpin, maka perusahaan dapat mempersiapkan kompetensi seorang pemimpin dalam diri Gen Z.
Perusahaan khususnya seorang pemimpin, dapat mempersiapkan Gen Z siap bekerja di lingkungan kerja dengan meluangkan waktu untuk membantu mengelola ekspektasi mereka. Pemimpin dapat memberi informasi tentang gambaran pekerjaan yang realistis sehingga mereka memahami aspek positif dan tantangan dari pekerjaan tersebut.
Bahkan sejak awal wawancara kerja, hal ini perlu disampaikan sebab akan membantu mereka memutuskan apakah pekerjaan itu cocok atau tidak. Sebagai pekerja, mereka juga dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi segala rintangan yang mungkin ditemui saat bekerja.
Setelah tiba di perusahaan, pemimpin dan Gen Z sebagai pekerja harus terlibat dalam kontrak psikologis. Kontrak psikologis merupakan penyelarasan langkah-langkah yang lebih rinci untuk merealisasikan ekspektasi bersama antara perusahaan, pemimpin dan pekerja.
Dengan menggunakan strategi ini, pemimpin diharapkan berhasil melakukan integrasi Gen Z di lingkungan kerja. Integrasi ini juga diharapkan dapat meningkatkan kepuasan dan produktivitas di tempat kerja, sekaligus mengurangi biaya perputaran karyawan. Selanjutnya, belum terlambat untuk mempersiapkan diri menghadapi Gen Z dan mengoptimalkan potensinya sebagai aset berharga bagi perusahaan. (*tribun jateng cetak)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Opini-Ditulis-Oleh-Paloma-Paramita-SPsi.jpg)