Guru Berkarya
Mengimplementasikan Gerakan Literasi Sekolah Sebagai Pembiasaan
Dengan membaca buku pelajaran dengan nyaring siswa lebih mudah mempelajari dan mengingat pelajaran yang diajarkan atauyang jarang belajar di rumah.
Penulis: Abduh Imanulhaq | Editor: galih permadi
DHIAN KIRNIAWATI,S.Pd.SD
KEPALA SEKOLAH
SDN SIDOMULYO 03 KEC.JAKENAN KAB.PATI
Mengimplementasikan Gerakan Literasi Sekolah Sebagai Pembiasaan
TRIBNJATENG.COM - Gerakan literasi sekolah merupakan usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif melibatkan warga sekolah atau seluruh snackhelter sekolah, penerbit, media, akademisi, masarakat atau tokoh masyarakat yang mempresentasikan keteladanan, dunia usaha dan lain-lain.Implementasi Gerakan literasi sekolah belum sepenuhnya berjalan lancar karena masih terdapat beberapa sekolah yang belum siap untuk melaksanakan gerakan tersebut.Gerakan literasi sekolah masih perlu mendapat apresiasi dan perhatian,karena tujuan program ini adalah untuk membangun generasi bangsa berkarakter dan berbudaya sehingga proses regenarasi bangsa menghasilkan produk terbaik dalam bentuk masyarakat Indonesia yang cerdas.
Literasi sekolah di SDN Sidomulyo 03 Kecamatan Jakenan berupa kegiatan membaca 15 menit sebelum masuk ke kelas,kegiatan lain yang berhubungan dengan pengembangan keterampilan siswa. Demikian juga dengan siswa siswa di SDN Sidomulyo 03 Kecamatan Jakenan Kabupaten Pati melaksanakan kegiatan literasi sekolah yang berusaha menerapkan GLS secara penuh namun belum sepenuhnya berjalan sebagaimana mestinya karena pelaksanaannya masih bertahap karena kelas 1 atau kelas rendah masih belum bisa diatur sepenuhnya dengan baik atau kurang disiplin.
Literasi menurut Copper (Purwo ,2017) Dalam bahasa Inggris berarti literacy. Dalam bahasa Latin littera(huruf)yang pengertiannya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi yang menyertainya.Implementasi gerakan literasi sekolah di Sidomulyo 03 Kecamatan Jakenan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu: tahap pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran .Masing-masing tahap mempunyai rincian kegiatan yang berbeda-beda .Pembiasaan adalah tahapan paling awal, di mana lebih ditekankan pada upaya menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang bertujuan menumbuhkan minat terhadap bacaan dan kegiatan membaca dalam diri warga sekolah. Menumbuhkan minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi peserta didik. Tahap pembiasaan dilaksanakan dengan cara membaca buku pelajaran nyaring, 15 menit setiap pelajaran di kelas dimulai. Hal ini dilakukan dikarenakan belum tersedianya buku-buku bacaan bertema cerita atau dongeng secara lengkap di SD penulis. Namun untuk langkah awal, cara ini dianggap baik untuk meningkatkan prestasi siswa .
Dengan membaca buku pelajaran dengan nyaring siswa lebih mudah mempelajari dan mengingat pelajaran yang diajarkan atau lebih untuk siswa yang jarang belajar di rumah. Kedua sarana dan lingkungan kaya literasi: lingkungan yang mendukung literasi antara lain: perpustakaan sekolah ,pojok baca kelas ,Area baca ,kantin dan kebun sekolah. Ketiga menciptakan lingkungan kaya teks berawal dari ruang kelas, dengan gambar karya siswa, jadwal pelajaran dan lain-lain. ada juga poster.Keempat memilih buku bacaan rumah namun di SD penulis belum dapat dilakukan karena belum lengkap buku bacaan. Dengan pembiasaan membaca dihafalkan dapat meningkatkan karakter ke kegemaran membaca .
Pembiasaan ini perlu adanya peran dari beberapa pihak seperti kepala sekolah, orang tua, guru dan siswa itu sendiri agar siswa lebih mengetahui dan memahami kegiatan pembiasaan tersebut. dan meskipun masih belum sepenuhnya menjalankan program literasi sekolah yang dicanangkan Kemendikbud RI , namun melihat keadaan sekolah dan siswa yang ada maka sekolah menjalankan program-program yang senilai sangat penting untuk tahap awal membawa siswa menuju manusia yang literasi sekolah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/DHIAN-KIRNIAWATISPdSD-KEPALA-SEKOLAH-SDN-SIDOMULYO-03-KECJAKENAN-KABPATI.jpg)