Berita Jepara
Memasuki Musim Hujan, Pemkab Jepara Petakan Kawasan Rawan Bencana
Pemerintah Kabupaten Jepara kini sedang melakukan pemetaan titik rawan bencana sebagai langkah antisipatif menghadapi risiko bencana alam
Penulis: Muhammad Yunan Setiawan | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Pemerintah Kabupaten Jepara kini sedang melakukan pemetaan titik rawan bencana sebagai langkah antisipatif menghadapi risiko bencana alam selama musim hujan. Sebagaimana yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, musim hujan seringkali menyebabkan sejumlah wilayah di Jepara mengalami banjir dan longsor.
Dalam upaya meminimalisir risiko bencana, Pemkab Jepara mengajak semua pihak untuk tetap waspada. Penjabat (Pj) Bupati Jepara, Edy Supriyanta, mengimbau perangkat daerah dan masyarakat untuk memperkuat langkah mitigasi menghadapi musim hujan. Mereka diingatkan agar tidak lengah terhadap potensi ancaman bencana alam yang dapat terjadi kapan saja.
"Kami sampaikan kepada seluruh masyarakat untuk tetap waspada. Semua harus selalu waspada," ujar Pj Bupati Jepara saat berpartisipasi dalam dialog interaktif di Radio Kartini pada Kamis (30/11/2023). Dialog tersebut dipandu oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Arif Darawan, dan dihadiri oleh narasumber Plt Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Anjar Jambore dan Kepala Pelaksana BPBD Jepara, Arwin Noor Isdiyanto.
Berdasarkan hasil Kajian Risiko Bencana Kabupaten Jepara Tahun 2023 – 2027, teridentifikasi 10 jenis bahaya bencana di Jepara, seperti banjir, rob, banjir bandang, cuaca ekstrem atau angin puting beliung, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gelombang ekstrem dan abrasi, gempa bumi, serta epidemi atau wabah penyakit.
Meskipun demikian, berdasarkan perhitungan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) tahun 2022, Jepara masuk dalam kategori "Kelas Risiko Sedang" dengan skor 122,27. Kabupaten ini berada di posisi ke-13 di Jawa Tengah, menunjukkan peningkatan dari kategori "Kelas Risiko Tinggi" dengan skor 135,11 pada tahun 2020.
Dari 10 jenis bahaya bencana yang ada, terdapat 4 jenis bahaya dengan risiko tinggi yang cenderung meningkat setiap tahun, yaitu banjir, banjir rob, kekeringan, dan tanah longsor.
"Memasuki awal musim penghujan, perlu mewaspadai bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin puting beliung, tanah longsor, dan gelombang ekstrem," tambahnya.
Secara detail, potensi bencana di Jepara melibatkan wilayah selatan, tengah, dan utara. Beberapa di antaranya mencakup Desa Dorang, Mayong Kidul, Paren, Gedangan, Welahan, Kedungsarimulyo, Batukali, Gerdu, Kaliombo, Tedunan, Sowan Kidul, Sowan Lor di wilayah selatan; ruas jalan Tegalsambi, Teluk Awur, Semat, banjir perkotaan di Kota Jepara, Mlonggo di wilayah Jambu – Karanggondang, dan Bondo di wilayah tengah; serta Desa Sumberrejo dan Clering di wilayah utara.
"Saat ini, kami telah menyediakan anggaran rutin dan dana darurat untuk percepatan penanganan, termasuk Dana Belanja Tak Terduga (BTT) dengan SK Tanggap Darurat Bencana jika diperlukan," jelas Edy Supriyanta.
"Seluruh Perangkat Daerah juga telah diinstruksikan untuk melakukan inventarisasi kebutuhan pokok masyarakat Karimunjawa, tidak hanya pangan, tetapi juga BBM dan LPG. Stok cadangan pangan di Karimunjawa harus terpenuhi selama baratan," tambahnya.
Kepala Pelaksana BPBD Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menyatakan bahwa saat ini sudah ada 23 anggota rescue cepat yang siap 24 jam, didukung oleh sekitar 500 personel dari ormas yang telah dilatih dan siap diterjunkan.
"Jepara juga telah menetapkan 6 desa Tangguh Bencana, yaitu Desa Tempur (Keling), Batukali, Karangrandu, Gerdu (Pecangaan), Bungu (Mayong), dan Damarwulan (Keling), yang siap memberikan bantuan jika terjadi bencana di wilayah tersebut," paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Edy-Supriyanta-saat-mengisi-dialog-interaktif-di-Radio-Kartini.jpg)