Tribun Jateng Goes to School bersama Tri
Curhat Pelajar SMA N 5 Semarang di Tribun Jateng Goes to School Bersama Tri
Survei Ipsos dan UNESCO periode Agustus - September 2023 tentang sumber penyebaran informasi hoaks medsos menunjukkan hasil mencengangkan.
Banyak Berita Hoaks di Media Sosial
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Survei Ipsos dan UNESCO periode Agustus - September 2023 tentang sumber penyebaran informasi hoaks medsos menunjukkan hasil mencengangkan.

68persen responden menilai hoaks paling banyak ditemukan di platform Facebook, YouTube, X/Twitter, Instagram, TikTok, dan lainnya.
Survei ini melibatkan 8.000 responden berusia 18 tahun ke atas yang tersebar di 16 negara (500 responden per negara). Lokasi survei yang dipilih adalah negara-negara yang akan menggelar pemilihan umum pada 2024, termasuk Indonesia.

Masifnya penyebaran konten hoaks di medsos, rupanya turut dirasakan pelajar SMA N 5 Semarang. Ossy Kartika Putri misalnya, ia acapkali menemukan konten hoaks muncul di timeline medsos miliknya.
Hal itu diketahui setelah Ossy menelusuri konten terkait di platform lain. Hasilnya, ditemukan bahwa informasi yang ia yakini benar justru hoaks.
"Banyak berita hoaksnya kalau di medsos. Tapi konten positifnya juga banyak, artinya kan ini sebagai bahasanya counter attack lah ya," kata Ossy beberapa waktu lalu.
Ossy pun memiliki cara ampuh yang menurutnya bisa menjauhkan dari konten hoaks. Ia membatasi penggunaan medsos dalam kesehariannya.
"Ya banyak si, kayak mencari informasi tentang apapun itu. Kenal medsos sekitar usia 14 tahun, sekarang usia 17 tahun. Kalau sehari nggak tentu megang medsos. Saat butuh aja si," paparnya.
Waka Kesiswaan SMA N 5 Semarang, Suci Harijanti menuturkan pengetahuan bermedia sosial berperan penting dalam pengajaran nilai etika di dunia maya.
Menurutnya, hal ini bisa membuat siswa terhindar dari fenomena pembulian di media sosial.
"Beberapa waktu lalu kita melihat ada konten anak sekolah yang melakukan bullying dan di unggah ke medsos. Nah dengan adanya sosialisasi ini saya rasa membuat anak paham etika bermedia sosial," katanya.
Ia berharap siswa menjadi lebih paham dan berhati-hati dalam bermedia sosial.
"Harapan siswa lebih mengetahui etika bermedia media sosial. Tidak gampang publish informasi apapun itu," ujarnya.
District Operation Head Central West Java, Robby Hikmat Permana mengatakan program Goes To School ini digagas untuk memberikan pemahaman generasi muda tentang etika bermedia sosial.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.