Tribun Jateng Goes to School bersama Tri
Agnes Beruntung Ikuti Tribun Jateng Goes to School bersama Tri Temukan Solusi Atasi Kecanduan Medsos
Saat ini, medsos telah menjelma menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam keseharian. Kehadirannya membawa perubahan cara berkomunikasi dan bersosial.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Saat ini, medsos telah menjelma menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam keseharian. Kehadirannya membawa perubahan cara berkomunikasi dan bersosial.

Medsos telah menciptakan rasa nyaman dalam bercengkerama di dunia maya. Namun, kenyamanan itu bisa berdampak buruk jika tak dikontrol.
Seperti yang dialami Agnes Amandarum, pelajar kelas XI, SMA Sedes Sapientiae Kota Semarang. Ia seringkali terlena dengan kenyamanan medsos yang membuat waktu belajarnya terganggu.

Agnes mudah terpancing oleh konten viral yang muncul di setiap notifikasi medsos miliknya.
"Biasanya ya jujur saya ini orangnya kepo. Saya akan lihat berita yang viral itu dulu sebelum saya belajar," kata Agnes beberapa waktu lalu.
Agnes menambahkan, ia pernah menghabiskan waktu berjam-jam di medsos padahal waktu ujian akhir semester hampir tiba. Alhasil, Agnes keteteran saat mengerjakan soal ujian.
"Dampak buruk yang sering saya alami ketika mendekati UAS. Saya justru malah kedistract dengan media sosial," paparnya.
Agnes mengaku beruntung bisa mengikuti acara Tribun Jateng Goes to School bersama Tri. Kini, ia telah tersadarkan dari jerat medsos yang merugikan dirinya.
"Dengan sosialisasi ini, saya jadi lebih mengetahui bahwa ternyata medsos seperti itu. Harus bisa lebih mengontrol diri di medsos. Tidak terjebak terlalu lama di dalamnya," ujarnya.
Kepala SMA Sedes Sapientiae Semarang, Andreas Jarot Suryo Legowo mendukung langkah masif sosialisasi konten sehat dunia digital. Menurutnya, pengetahuan pelajar tentang media sosial masih minim dan rawan terkena hoaks.
"Kami senang, karena anak-anak sekarang itu membutuhkan materi yang seperti ini. Anak-anak sangat intens bermedia sosial, tapi pemahaman dan pengetahuan mereka dalam bermedia sosial masih sangat terbatas," ucapnya.
Ia juga menyoroti psikologis para pelajar yang mudah terpengaruh konten medsos.
"Dia lagi marah, marahnya diunggah medsos. Lagi nggak suka sama orang lain, diunggah lagi. Nah ini menurut saya situasinya berbahaya,"
"Ini perlu pemahaman agar diperhatikan karena bisa merugikan. Menjadi penting mana yang perlu diunggah dan tidak," tegasnya.
District Operation Head Central West Java, Robby Hikmat Permana mengatakan program Goes to School ini digagas untuk memberi pemahaman generasi muda tentang etika bermedia sosial.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.