Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Jejak Kiai Ibrahim Tunggul Wulung di Gereja Tua Kayuapu Kudus

Bangunan gereja dengan dominasi warna kuning gading yang ada di Dukuh Kayuapu Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus

|
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: rival al manaf

Diakui memang penganut Kristen di Kayuapu waktu itu sempat bingung kalau harus langsung membangun gereja yang besar. Akhirnya setelah mulai dibangun pada 1854, program pendirian gereja ini mendapat sokongan dana dari Pabrik Gula Klaling Jepara meski tidak penuh. Setelah proses pembangunan berlangsung selama 10 tahun, akhirnya pada 1864 gereja Kayuapu berdiri.

Pada awal berdiri, pelayan iman di Gereja Kayuapu adalah Hoezoo. Dia harus rela berkuda selama 13 jam hanya untuk datang ke Kayuapu. Jarak itulah yang kemudian mengganggu Hoezoo untuk rutin datang ke Kayuapu. Akhirnya pelayanan iman Kristen diserahkan pada murid Hoezoo, Asakiman. Sedangkan Jellesma yang ada di Mojowarno juga mengirimkan muridnya ke Kayuapu yaitu Yusuf Sajo, Tresnorogo, dan Filemon untuk menjaga iman Kristen para pengikut di Kayuapu. Namun seiring berjalannya waktu mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Keadaan ini bertambah buruk saat Jellesma meninggal pada 1860. Hoezoo dari Semarang akhirnya pindah ke Mojowarno Jombang menggantikan Jellesma.

Singkatnya pada 1886 Hoezoo kembali bertugas sebagai pelayan iman Kristen di Semarang. Saat itulah dia kembali melakukan rutinitas ke Kayuapu. Hanya saja saat ini dia tidak lagi berkuda, tetapi sudah bisa memanfaatkan kereta api relasi Semarang-Kudus. Hoezoo rutin datang dua kali dalam sebulan ke Kayuapu. Namun seiring semakin tuanya Hoezoo fisik tidak lagi bisa diajak kompromi dan dia meninggal pada 2 Juli 1890. Sedangkan muridnya Asakiman yang semula mendampingi jemaat Kayuapu juga sudah meninggal.

 

Diserahkan pada Menonit

 Sepeninggal Hoezoo dan Jellesma membuat kualitas dan kuantitas penganut Kristen di Kayuapu semakin lemah. Dua misionaris yang semula selalu memantau perkembangan ini telah mangkat. Akhirnya keberadaan Kristen di Kayuapu diserahkan pada corak menonit. Saat itulah Pieter Jansz seorang misionaris gereja menonit asal Belanda yang tinggal di Jepara mengambil kendali.

Perbedaan mendasar antara corak Kristen sebelumnya dengan menonit di antaranya yaitu jika Hoezoo dan Jellesma menganut aliran baptis bisa dilakukan sejak kecil, sedangkan corak menonit baptis hanya bisa dilakukan pada orang dewasa.

Saat pertama Kayuapu bercorak menonit pada 1 Juli 1898 jumlah jemaat yaitu sebanyak 20 orang dewasa dan 33 anak-anak. Sedangkan murid di sekolah gereja tinggal 44 anak. Berhubung Pieter Jansz tinggal di Jepara akhirnya untuk mengurus jemaat di Kayuapu diserahkan pada tiga misionaris yaitu Johan Hubert, Johan Klassen, dan Johan Gerald Fast secara bergantian untuk mengurus jemaat di Kayuapu. Kemudian pada 1901 Johan Gerald Fast ditetapkan untuk memegang Kayuapu secara tetap.

“Johan Gerald Fast inilah misionaris menonit yang pertama memegang Kayuapu,” kata Slamet.

Gerald Fast memiliki istri Jacoba Yohana Maria yang merupakan anak dari Pieter Jansz. Di tangan Gerald Fast jemaat di Kayuapu semakin tumbuh pesat. Dia juga membuat pelayanan kesehatan dengan membuka poliklinik di kompleks gereja. Poliklinik beroperasi 35 hari sekali setiap Kamis Legi.

Mertua Gerald Fast, Pieter Jansz yang sudah tidak lagi bertugas sebagai misionaris akhirnya pada 1901 dia ikut menetap di Kayuapu bersama Gerald Fast sampai meninggal. Selama masa tuanya, Pieter Jansz menghabiskan waktu untuk menerjemahkan Alkitab dari Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Jawa.

“Kurang lebih selama 20 tahun terakhir usianya Pieter Jansz habis untuk menerjemahkan Alkitab,” kata dia.

Setelah Gerald Fast tidak lagi memegang kendali jemaat Kayuapu sejak 1928, misi menonit di Kayuapu diteruskan oleh Hermas Smith. Jemaat kian tumbuh dan berkembang. Totalnya ada 227 orang penganut Kristen menonit tidak hanya ada di Kayuapu, bahkan sampai di Karangrowo Undaan.

Setelah beberapa kali dipimpin oleh misionaris Belanda, akhirnya penganut Kristen lokal di Kayuapu berpikir untuk mandiri menahbiskan pendeta. Saat rencana kemandirian itu muncul dan belum terlaksana, perang dunia kedua pecah. Kondisi kian buruk saat Jerman menyerang Belanda pada 10 Mei 1940.

“Karena di Belanda sana sedang dikuasai Jerman, akhirnya semua hubungan dengan Hindia Belanda terganggu, misionaris terganggu, dana tersendat. Itu mulai agak kolaps,” kata Slamet.

Parahnya kondisi akibat perang dunia tersebut membuat misi kemandirian terus dilancarkan. Akhirnya pada 24 November 1940 Gereja Kayuapu memiliki pendeta pertama dari warga lokal yaitu Wigeno Mororejo.

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved