Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Mengenal Ibu Purwaningrum: Perjuangan Memajukan Batik Khas Grobogan

Telah berkiprah sejak sekolah dasar, Ibu Purwaningrum dari Desa Pakis, Grobogan, telah menjadi sosok yang menginspirasi.

magang
Telah berkiprah sejak sekolah dasar, Ibu Purwaningrum dari Desa Pakis, Grobogan, telah menjadi sosok yang menginspirasi. Dalam perjalanan panjangnya, ia berjuang untuk mengembangkan batik khas Grobogan, meski dihadapkan pada berbagai tantangan. (Istiqomah Unimus) 

TRIBUNJATENG.COM, GROBOGAN - Ibu Purwaningrum, penduduk Desa Pakis, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mengejar hobi yang juga menghasilkan pendapatan. Sejak masa sekolah dasar, dia telah mendalami seni lukis dan gambar. Setelah bekerja di sebuah perusahaan di Pulokulon Grobogan, Ibu Ningrum memanfaatkan kesempatan ketika perusahaan tempatnya bekerja membuka kelas membatik dengan tujuan mengembangkan batik khas Grobogan.

Ibu Ningrum bergabung dalam kelas tersebut dan, merasa sudah mampu, ia memutuskan untuk membuka usaha batik tulis sendiri. Dengan mengajukan proposal dan izin kepada DISPERINDAG, dia mendapatkan persetujuan dan mulai beroperasi di rumahnya sejak tahun 2012 hingga sekarang. Ibu Ningrum kemudian mendirikan kelompok bernama "Arum Mandiri" dengan sekitar 25 anggota/karyawan.

Salah satu kendala yang dihadapi oleh Ibu Ningrum adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang batik asli Grobogan, sehingga produksinya masih terbatas. Ia hanya memproduksi batik sesuai pesanan, namun tetap membuat beberapa batik sebagai stok jika ada pembeli mendadak.

Baca juga: Museum Batik Pekalongan Optimis Capai Target PAD Rp 150 Juta di 2024

Ibu Ningrum tidak hanya memproduksi batik, tetapi juga berinisiatif untuk mengajarkan keterampilan membatik kepada karyawannya. Dia mengundang ahli membatik untuk memberikan pelatihan kepada anggota kelompok "Arum Mandiri". Tujuan utama usahanya adalah untuk mengembangkan hobi pribadinya dan memberikan lapangan pekerjaan kepada ibu-ibu desa yang sebelumnya hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga dan petani.

Pada tahun 2019, usaha Ibu Ningrum mendapatkan persetujuan dari Bupati Grobogan dan menjadikan batik khas Grobogan sebagai ikon resmi kabupaten. Antara tahun 2019 dan 2021, batik karyanya dengan tema Grobogan dijadikan seragam untuk para Aparatur Sipil Negara (ASN) di kabupaten tersebut.

Menurut Ibu Ningrum, seni batik bukan hanya tentang menjual kain, melainkan juga tentang nilai seni pada corak dan motif kain batik itu sendiri. Untuk bahan dan alat membatik, Ibu Ningrum biasanya membeli di Solo, yang merupakan kota dengan produksi batik yang cukup besar.

Harga jual kain batik buatan Ibu Ningrum bervariasi tergantung pada corak dan bahan kain yang dipilih oleh konsumen. Harga per potongan (2m) berkisar antara Rp.175.000,00 hingga Rp.250.000,00. Harga ini tidak hanya berlaku untuk batik tulis, tetapi juga untuk batik printing/sablon. Perbedaan antara keduanya terletak pada proses pembuatannya; batik tulis membutuhkan waktu lebih lama karena melibatkan penggambaran desain, sementara batik printing lebih cepat karena menggunakan metode sablon seperti pada pakaian.

Meskipun memiliki semangat yang besar, Ibu Ningrum menghadapi kendala dalam pemasaran, karena masih sedikit yang mengetahui tentang keberadaan batik khas Grobogan. Selain itu, tingginya harga batik tulis yang disebabkan oleh proses pembuatannya yang lebih panjang menjadi tantangan dalam menarik minat pembeli. Namun, Ibu Ningrum tetap gigih dan aktif mempromosikan batiknya melalui berbagai event di Kabupaten Grobogan dengan dukungan teman-temannya di DISPERIGDAG.

"Saya berharap agar batik Grobogan lebih dikenal oleh banyak orang di tahun-tahun mendatang," ucap Ibu Ningrum dengan semangat.

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved