Ekonomi Bisnis
Krisis Industri Tekstil Hantui Jawa Tengah, Ternyata Ini Penyebabnya
Pengusaha di Jawa Tengah tak menampik usaha di sektor tersebut kini tengah menghadapi ancaman krisis dan berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK)
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Muhammad Olies
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Performa Industri tekstil dan produksi (TPT) dan alas kaki memperlihatkan penurunan. Pengusaha di Jawa Tengah tak menampik usaha di sektor tersebut kini tengah menghadapi ancaman krisis dan berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK).
Menanggapi hal ini, Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah mencermati penurunan kinerja di sektor tersebut sebagai buntut dari dampak pandemi Covid-19.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Ndari Surjaningsih menyebutkan adanya penurunan permintaan dari negara mitra dagang, karena kondisi global yang ternyata belum sepenuhnya pulih.
"Ini selain masalah geopolitik Rusia-Ukraina, ada juga masalah karena mereka (negara ekspor) sedang menghadapi inflasi yang tinggi. Jadi setelah covid-19 kemarin, mereka menggelontorkan stimulus-stimulus, yang bagus bahwa itu bisa mengangkat perekonomiannya,"
"Namun perkembangannya, ini meningkatkan permintaan masyarakat akhirnya menimbulkan tekanan inflasi. Beberapa negara inflasi masih diatas target, sehingga bank sentralnya harus melakukan kebijakan suku bunga yang tinggi. Jadi kebijakan moneternya masih ketat, dampaknya ke penurunan permintaan di negara tersebut," kata Ndari pada pertemuan bersama media di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Tengah, Selasa (25/6/2024).
Baca juga: Ekspor Jateng Turun Pada September 2023, Impor Meningkat
Baca juga: Nailul Khawatir Gelombang PHK Industri Tekstil Meluas ke Sektor Manufaktur
Ndari lebih lanjut menyebutkan, sisi permintaan komoditas tersebut berasal dari negara-negara yang masih mengalami inflasi tinggi seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Ini menyebabkan ekspor TPT dan alas kaki Indonesia termasuk Jawa Tengah turun.
"Kalau dilihat perkembangannya, di tahun 2023 secara tahunan memang ekspor TPT untuk tujuan ke Eropa turun -24 persen dan ke Amerika turun -17-18 persen di 2023. Kemudian untuk alas kaki, ke Amerika turun hingga -37 persen dan Tiongkok turun -20 persen. Sedangkan ke Eropa turun hingga -8 persen. Jadi ini juga berdampak kepada penjualannya," terangnya.
Sementara itu, dia menambahkan masalah dihadapi lainnya adalah sulitnya bagi produsen mendapatkan baku. Selain itu, masuknya produk impor ilegal turut menjadi pemicu lesunya usaha TPT dan alas kaki ini.
"Produk impor ilegal yang masuk meningkatkan daya saing untuk produsen, (permintaan) domestik pun mengalami penurunan. Jika ini berlanjut, menjadi risiko untuk pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dan nasional secara umum. Sehingga, ini perlu ada langkah untuk kami usulkan ke pemerintah," jelasnya.
Ndari menyebutkan, pihaknya mengusulkan untuk memperketat impor ilegal untuk melindungi produsen domestik.
"Kemudian juga meninjau beberapa besaran pajak ekspor dan juga impor untuk korporasi.
Berikutnya dalam jangka pendek, dari pusat bisa memotivasi atau diusulkan untuk menggunakan produk dalam negeri. Sedangkan jangka panjangnya, memperbaiki secara struktural industri hulu dan hilir mulai dari rantai pasoknya. Bagaimana supaya kebutuhan terhadap bahan impor bisa lebih berkurang," imbuhnya. (idy)
Pedagang Sembako Pasar Bulu Semarang Curhat ke Mentan, Minta Penyaluran SPHP Tak Ribet |
![]() |
---|
Biaya Pendidikan Sebabkan Inflasi di Jateng pada Tahun Ajaran Baru |
![]() |
---|
Dampak Tarif 0 Persen Untuk Amerika, Pengusaha Siapkan Strategi Efisiensi |
![]() |
---|
Ratri Bintari Ekowati Raup Cuan dari Kain Perca yang Jadi Beragam Produk Bernilai Ekonomis |
![]() |
---|
Komut Pertamina Iwan Bule Apresiasi Penjualan Pertamax Green di Semarang |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.