Jumat, 1 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Apa Itu Fenomena Bediding? Purworejo-Jogja dan Sekitarnya Terasa Dingin Pagi hingga Malam

Apa Itu Fenomena Bediding? Purworejo-Jogja dan Sekitarnya Terasa Dingin Pagi hingga Malam

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: non | Editor: galih permadi
Shutterstock
Apa Itu Fenomena Bediding? Purworejo-Jogja dan Sekitarnya Terasa Dingin Pagi hingga Malam 

TRIBUNJATENG.COM - Apa itu fenomena Bedididng? Terjadi di Purworejo hingga Jogja, terasa dingin saat pangi hingga malam hari.

Apa itu Fenomena Bediding?

Istilah bediding berasal dari kata serapan Bahasa Jawa "Bedhidhing.

Bedhidhing dalam Bahasa Jawa artinya perubahan suhu mencolok, khususnya di awal musim kemarau.

Melansir Kompas.com, Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ida Pramuwardani mengatakan, fenomena bediding ditandai dengan suhu udara yang turun drastis pada malam hingga dini hari.

Di beberapa wilayah, suhu dingin ini bahkan bisa mencapai titik beku.

"Fenomena bediding umum terjadi di Indonesia. Puncaknya terjadi pada musim kemarau terutama pada Juli sampai September," kata Ida

Sementara itu dalam konteks klimatologi, fenomena bediding merupakan hal yang wajar.

Perubahan suhu ini berkaitan dengan kondisi atmosfir saat musim kemarau.

Menurut BMKG, ada empat penyebab utama suhu udara berubah menjadi sangat dingin saat musim kemarau.

Yakni udara kering, langit cerah, dan topografi.

Selama musim kemarau, hujan jarang terjadi sehingga langit menjadi lebih cerah.

Menurutnya, langit cerah pada malam hari menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi terpancar ke atmosfer tanpa hambatan.

Ini mengakibatkan penurunan suhu yang signifikan. Dengan curah hujan yang kurang, kelembapan udara menjadi rendah.

Artinya, uap air di dekat permukaan Bumi juga sedikit.

"Pada musim kemarau, udara cenderung lebih kering karena kurangnya uap air.

Udara kering memiliki kapasitas panas yang lebih rendah sehingga lebih cepat kehilangan panas pada malam hari," terang Ida.

Bersamaan dengan kondisi langit yang cenderung bersih dari awan, panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepaskan ke atmosfer luar.

Akibatnya, udara di dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.

Selain itu, fenomena bediding juga dipicu karena ketiadaan angin yang menghambat percampuran udara.

Akibatnya, udara dingin tetap terperangkap di dekat permukaan bumi.

Pada daerah dataran tinggi atau pegunungan, memasuki musim kemarau akan lebih dingin karena tekanan udara yang lebih rendah dan kelembapan udara yang lebih sedikit.

Wilayah yang dilanda fenomena bediding

Fenomena bediding umum terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan khatulistiwa hingga bagian utara.

Pada wilayah tersebut, meski pagi hari cenderung lebih dingin, udara siang hari akan terasa lebih panas.

Pasalnya, ketiadaan awan dan kurangnya uap air saat musim kemarau menyebabkan radiasi langsung Matahari akan lebih banyak yang mencapai permukaan bumi.

Menurut Ida, fenomena bediding pada Juli 2024 sudah melanda daerah dataran tinggi di Indonesia, khususnya bagian selatan.

"Fenomena bediding terjadi di daerah dataran tinggi di Indonesia bagian selatan, seperti Pulau Jawa, Bali sampai Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT)," tutup Ida. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved