Berita Kudus
Kemenko PMK Bentengi Cara Bermedia Sosial Remaja Indonesia dengan Cara Ini
Di Kabupaten Kudus, satu di antara program yang dijalankan adalah pelatihan positif bermedia sosial digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu (24-25/8)
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: Muhammad Olies
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia dan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) 2024 yang diimplementasikan dalam empat kegiatan.
Di Kabupaten Kudus, satu di antara program yang dijalankan adalah pelatihan positif bermedia sosial digelar selama dua hari, Sabtu-Minggu (24-25/8/2024) di Hotel Griptha Kudus.
Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Pelestarian Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga pada Kemenko PMK, Prof Warsito menyampaikan, salah satu pilar yang diamanahkan dalam rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) adalah penguatan karakter dan jati diri bangsa melalui program revolusi mental.
Substansi program tersebut adalah bagaimana penguatan jati diri dan karakter bangsa, mulai dari integritas, gotong-royong, hingga etos kerja masyarakat Indonesia.
Menurut dia, satu di antara faktor yang mempengaruhi karakter dan jati diri bangsa adalah masuknya informasi melalui media sosial (media digital).
Kecepatan informasi yang disuguhkan melalui media sosial tidak bisa dibendung. Butuh peran serta semua pihak, termasuk orangtua dan keluarga sebagai kontrol sosial bagi anak-anaknya.
Baca juga: Inilah Semarang Writers Week 2024, Gerakan Bersama Tingkatkan Kemampuan Literasi Digital
Baca juga: 103 Calon Pemilih Pemula di Kota Semarang Disasar Literasi Digital Waspada Hoaks Jelang Pilkada 2024
Baca juga: Unwahas Satu-Satunya PTS Penerima Hibah GNRM Kemenko PMK Dua Tahun Berturut-turut
Orangtua harus menjadi filter segala aktivitas putra-putrinya dari dunia media sosial. Supaya tidak mudah terjerumus pada informasi-informasi negatif yang disebar di secara bebas.
Prof Warsito menegaskan, pelatihan positif bermedia sosial merupakan upaya bagaimana memberikan pemahaman generasi penerus bangsa, agar bijak bermedia sosial dan tidak menyebarkan berita hoaxs.
Selain itu, kata-kata yang disebarluaskan haruslah kata-kata yang positif dengan substansi yang membangun. Sehingga informasi yang disebarluaskan bernilai baik dan tidak menyesatkan.
"Disadari bersama bahwa orangtua jadi pusat pendidikan pertama. Harapan kami, orangtua memberikan pelajaran positif kepada anak, tidak membebaskan putra dan putrinya bermain gadget, serta senantiasa mendampingi anak-anak ketika mengakses internet, jangan dibebaskan," terangnya.
Prof Warsito menyadari bahwa penggunaan media sosial pada generasi milenial dan gen Z sebuah keniscayaan.
Artinya tidak bisa dilarang, mengingat cara berkomunikasi generasi saat ini melalui media sosial yang saling terhubung dengan internet.
Hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana membentengi cara bermedia sosial remaja dengan memberikan pelatihan dan pemahaman secara masif.
Generasi penerus bangsa harus paham tentang informasi yang benar dan salah, tidak mudah terpancing dengan berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sehingga terlatih dalam menentukan informasi yang dibutuhkan.
"Penguatan positif bermedia sosial ini jauh lebih penting. Dulu kita gak tahu WhatsApp, Tiktok, tapi anak-anak kita mengenalnya di generasinya," lanjut dia.
Prof Warsito mendorong tenaga pendidik, orangtua, hingga lingkungan menjadi barier bagi anak-anak ketika berselancar di dunia digitalisasi dengan aman.
Kecanggihan internet saat ini jangan sampai menjerumuskan generasi penerus masa depan Indonesia dengan hal-hal negatif yang bisa ditemui melalui media sosial. Misalnya website atau platform berbahaya yang berpotensi merusak masa depan Indonesia.
Pihaknya berharap, semua peserta yang mendapatkan bekal pelatihan positif bermedia sosial selama dua hari di Kudus menjadi duta untuk menebarkan kebaikan di dunia digitalisasi.
Misalnya, memotret hal-hal positif yang terjadi di lingkungan masyarakat untuk disebarluaskan kepada masyarakat secara luas.
"Generasi penerus bangsa harus punya bekal berupa kemampuan memilih, memilah dan menyaring informasi yang ada di dunia digitalisasi," harapnya.
Ketua PD Muhammadiyah Kudus, Noor Muslikhan menambahkan, pelatihan yang diberikan bertujuan agar remaja saat ini bijak dalam bermedia sosial yang sehat.
Orangtua harus menanamkan sifat akhlakul karimah pada karakter putra putrinya, agar cara bermedia sosial generasi milenial dan gen z dapat terkendali.
"Sekarang sudah ada Google Family untuk memantau kegiatan anak-anak dalam bermedsos. Kita juga menyadarkan orangtua agar di zaman sekarang tidak lepas dua tangan ketika mengakses informasi yang begitu bebas tanpa ada kendali orangtua. Inilah cara bermedia sosial yang sehat di era kencangnya penyebaran informasi," tutur dia. (Sam)
| Bupati Kudus Dorong Penguatan Sport Tourism melalui Berbagai Even Olahraga |
|
|---|
| Potret Kemiskinan di Kudus: Tinggal di Rumah Bedeng, Anak Putus Sekolah |
|
|---|
| Sam’ani Komitmen Bawa Pendidikan di Kudus Relevan dengan Perkembangan Zaman |
|
|---|
| Pemkab Kudus Ajukan DAK ke Kemenkes untuk RSUD Loekmono Hadi dan RSDU Sunan Muria |
|
|---|
| Manfaatkan Lahan Kosong Samping Rumah, Agus Sulistiyanto Kini Sukses Bertani Selada Hidroponik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/evolusi-Mental-Pemajuan-Pelestar.jpg)