Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

PHK Pekerja Pabrik Tekstil dan Garmen di Jawa Tengah Terus Berlanjut

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengakui angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) meningkat beberapa waktu belakangan, khususnya di bidang garmen,

Editor: m nur huda
TribunJateng.com/Budi Susanto
ilustrasi pekerja di pabrik garmen - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengakui angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) meningkat beberapa waktu belakangan, khususnya di bidang garmen, tekstil hingga jasa. 


TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengakui angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) meningkat beberapa waktu belakangan, khususnya di bidang garmen, tekstil hingga jasa.

Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani Aher meminta Pemerintah untuk segera bergerak cepat mengatasi masalah tersebut.

"Pemerintah jangan tenang-tenang saja, seolah tidak ada masalah," kata Netty Prasetiyani Aher dalam keterangannya, Kamis (5/9/2024).

Netty lalu menyoroti secara khusus salah satu bidang yang marak terjadinya PHK yakni tekstil dan garmen. Dia menyebut itu disebabkan oleh tidak kuatnya daya saing industri di bidang tersebut dengan barang impor China.

"Salah satu faktor yang menyebabkan tumbangnya industri tekstil dan garmen dalam negeri adalah tidak kuat bersaing dengan barang impor China. Impor barang dari China harus diawasi dan diperketat," ucapnya.

Sebagai informasi, industri tekstil, garmen dan alas kaki merupakan sektor yang paling banyak melakukan PHK. Selain alasan tidak kuat bersaing dengan produk impor China, juga karena kurangnya permintaan yang menyebabkan merosotnya produksi dalam tiga tahun terakhir.

Untuk itu, Netty menilai Pemerintah harus melakukan pembenahan regulasi mengingat produsen dari China bisa menjual produk dengan harga yang lebih murah lantaran adanya subsidi dan kemudahan aturan dari pemerintah negara mereka.

"Artinya ada regulasi yang menguntungkan (dari pemerintah China). Selain itu, patut ditengarai adanya praktik jual dan impor ilegal yang masuk ke Indonesia. Kita harus cek bagaimana regulasi di Indonesia," imbuh Legislator dari Dapil Jawa Barat VIII ini.

Lebih lanjut, Netty meminta Pemerintah agar menyelidiki pengawasan produk impor serta memberantas praktik jual impor ilegal. "Jika kondisi ini dibiarkan, tentunya akan semakin banyak industri dalam negeri yang tumbang dan mem-PHK karyawannya," lanjut Netty.

PHK di Jawa Tengah

Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Kemnaker, Indah Anggoro Putri menjelaskan PHK paling banyak terjadi di Jawa Tengah.

Posisi kedua diikuti oleh DKI Jakarta, lalu posisi ketiga Provinsi Banten. Khusus PHK di DKI Jakarta didominasi sektor jasa seperti restoran dan kafe.

"Jateng sektor tadi Bu Menteri bilang, manufaktur, tekstil, garmen, alas kaki. Kalau di DKI kebanyakan jasa. restoran, kafe, itu jasa banyak. Banten industri. DKI (PHK) 7.400 lebih," tuturnya.

Produk Tekstil

Di Jateng terdapat 9.133 orang terkena PHK sepanjang 2024. Hal tersebut juga dicatat oleh Disnakertrans Provinsi Jateng. Menurut Kepala Disnakertrans Jateng, Ahmad Aziz, angka tersebut merupakan data dari aplikasi SIGAP PHI.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved