Berita Ekonomi
Pabrik Tekstil di Indonesia Terus Berguguran, Terbaru di Karanganyar, Mirah Khawatir PHK Makin Masif
Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di negeri ini tak dapat terhindarkan, menyusul semakin banyaknya pabrik tekstil yang mengalami kebangkrutan
TRIBUNJATENG.COM - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di negeri ini tak dapat terhindarkan, menyusul semakin banyaknya pabrik tekstil yang mengalami kebangkrutan.
Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat sejak awal 2024 hingga 26 September 2024, pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 52.993 orang.
"Pada bulan ini saja, korban PHK mencapai 6.753 pekerja. Total PHK per 26 September 2024 sebanyak 52.993 tenaga kerja, meningkat (dari periode yang sama tahun lalu-Red),” kata Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Kemenaker, Indah Anggoro Putri, dikutip dari Kontan, Jumat (27/9).
Wilayah terbanyak melakukan PHK yaitu Jateng mencapai 14.767 kasus, Banten 9.114 kasus, dan DKI Jakarta 7.469 kasus.
Sementara, bedasarkan sektornya, kasus PHK terbanyak berasal dari sektor pengolahan yang mencapai 24.013 kasus, termasuk industri tekstil.
Baca juga: PHK Pekerja Pabrik Tekstil dan Garmen di Jawa Tengah Terus Berlanjut
Kemudian, sektor jasa sebanyak 12.853 kasus, serta sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang mencapai 3.997 kasus.
Baru-baru ini, terdapat perusahaan tekstil yang dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang, yaitu PT Pandanarum Kenanga Textile (Panamtex) di Pekalongan, yang berpotensi mengakibatkan PHK karyawan.
Pabrik tekstil di Solo Raya juga banyak yang ambruk. Terbaru yakni ditutupnya pabrik tekstil PT Kusumahadi grup di Karanganyar, yang merupakan bagian dari anak perusahaan Danar Hadi grup.
Penutupan pabrik itu berdampak panjang, di mana nasib para buruh perusahaan itu kini terlunta-lunta karena 6 bulan gaji mereka masih belum dibayarkan.
Alasan bangkrutnya pabrik tekstil dan berujung pada PHK di dalam negeri itupun diungkap Presiden Asosiasi Serikat Pekerja (ASPEK) Indonesia Mirah Sumirat.
Menurut dia, industri tekstil domestik mulai tertekan setelah konflik antara Rusia dan Ukraina.
Industri tekstil dalam negeri yang rata-rata merupakan eksportir, terkena dampak dari peristiwa global tersebut.
Ia menyebut, sebagian besar industri tekstil di Indonesia bergantung pada pasar internasional, dan kondisi global ini berdampak signifikan terhadap mereka.
"ini kan tekstil sudah mulai trennya itu turun gitu ya, karena waktu itu alasan mereka adalah terjadi perang Ukraine dan Rusia," katanya, kepada Tribunnews, dikutip Kamis (26/9).
"Mereka kemudian mengalami penurunan terus karena faktor luar negeri itu mempengaruhi kuat, sangat kuat," sambungnya.
| Mengapa Nilai Tukar Rupiah Bisa Melemah? Orang Desa Ternyata Juga Bisa Jadi Penyelamat |
|
|---|
| BI Jateng: Inflasi Tahunan Masih Aman di Level 2,11 Persen |
|
|---|
| Usia Beranjak 40 Tahun? Simak Strategi Jitu Atur Keuangan Agar Pensiun Tenang dan Mandiri |
|
|---|
| Beragam Promo Menarik di GIIAS Semarang 2025 |
|
|---|
| Semarang Deflasi di Bulan Agustus, Beras Masih Alami Inflasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-phk-3.jpg)