Berita Brebes
Kala Rumah Anak SIGAP Atasi Stunting di Pesisir Brebes, Edukasi Orangtua Pola Asuh Positif
Rumah Anak SIGAP Kluwut merupakan program dari Tanoto Foundation yang diresmikan, pada 20 Juli 2022
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM,BREBES- Pagi itu, Izzati Ainur Rizqo tampak bersemangat berjalan cepat dengan menggandeng tangan ibunya, Amalia Miranti (32), Selasa (19/11/2024). Anak berusia 3 tahun itu berjalan sembari melompati genangan air sisa hujan semalam di perkampungan nelayan Desa Kluwut RT 03 RW 04, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes.
Wajahnya seketika semringah. Dia tersenyum setelah sampai di Rumah Anak SIGAP Kluwut. Buru-buru, dia menarik tangan ibunya untuk masuk.
Izzati menjadi yang pertama sampai. Dia bersama ibunya disambut oleh Solikha (57), fasilitator Rumah Anak SIGAP Kluwut. Dengan cerianya, Izzati menyalami dan memamerkan rambutnya yang baru dipotong pendek dan berponi. Dia lalu bermain lego balok susun.
Saat semua anak sudah sampai, pukul 09.30 WIB, fasilitator membagikan buku cerita berjudul ‘Menyambut saat Noni Datang.’ Para orangtua diminta mendongengkan isi buku tersebut kepada anaknya. Beberapa anak terlihat mendengarkan sambil menunjukkan jari ke gambar, beberapa yang lain sibuk dengan mainan di tangannya.
Setelah itu, orangtua diarahkan untuk bertanya siapa saja karakter dalam dongeng tersebut. Izzati dengan lancar menjawab pertanyaan dari ibunya.
“Sejak anak belum berumur 3 tahun sudah ikut kegiatan di Rumah Anak SIGAP. Anak jadi lebih aktif dan mudah berinteraksi serta tidak pemalu,” tutur Amalia membanggakan anak pertamanya.
Di ruangan seluas 5x3 meter itu, ada sejumlah tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan bersama orangtuanya. Mereka merupakan peserta kelas Bintang Terang, kelompok anak usia 24 bulan-36 bulan.
Saat kegiatan berlangsung ada lima orang pendamping, satu koordinator dan empat fasilitator Rumah Anak SIGAP, yakni Sri Yuliana (41), Solikha, Maria Ulfa (41), Tarifah (41), dan Taswi (45). Mereka semua kader kesehatan Desa Kluwut.
Setelah materi selesai, fasilitator membuka konsultasi terhadap pola asuh orangtua yang diberikan sehari-hari di rumah. Mulai cara berkomunikasi dengan anak, makanan dengan asupan gizi, dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Saya dapat edukasi tentang stunting di sini, mana makanan minuman yang baik dan tidak. Jadi tahu dalam sehari anak harus makan satu protein, paling tidak telur, supaya terhindar dari stunting,” ungkap Amalia yang senang melihat anaknya tumbuh sehat.
Manfaat keberadaan Rumah Anak SIGAP Kluwut turut dirasakan oleh Kusripah (35), seorang ibu rumah tangga yang suaminya bekerja sebagai nelayan. Anak keduanya yang berusia 13 bulan, Fatimah Azzahra Shakwina, tumbuh sehat. Meski belum bisa berbicara, namun sangat aktif dan memahami saat diajak berkomunikasi.
“Saya sebagai ibu diajarkan cara mendidik dan berkomunikasi dengan anak. Lalu pola makan, usia 0-6 bulan hanya ASI eksklusif, usia 6 bulan setelahnya diberi makanan pendamping ASI,” kata Kusripah.

Mendongeng menjadi salah satu materi layanan Rumah Anak SIGAP di kelas Kelompok Bermain Bersama (KBB). Semuanya ada empat layanan, tiga lainnya ada Kelas Tematik (KT) Pengasuhan, Kunjungan Rumah (KR), dan Pendampingan Individual (PI).
Dalam kelas tersebut, fasilitator mengajak berdiskusi para orangtua akan manfaat mendongeng. Empat jawaban didapatkan, satu per satu dituliskan di lembaran kertas yang ditempelkan di dinding, yaitu merangsang anak berbicara, menambah pengetahuan, melatih fokus, dan meluapkan emosi.
“Kalau dikasih cerita anak mendengarkan dan fokus, itu mencerdaskan otak anak. Jadi kami mengarahkan orangtua jika anak rewel jangan dikasih handphone, lebih baik aktif mendidik dengan bercerita,” jelas Solikha, fasilitator Rumah Anak SIGAP Kluwut.
Awalnya Ditolak
Rumah Anak SIGAP Kluwut merupakan program dari Tanoto Foundation yang diresmikan, pada 20 Juli 2022. Program Siapkan Generasi Anak Berprestasi (SIGAP) itu bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Brebes dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Bangunan yang digunakan milik pemerintah desa, bersebelahan dengan Pondok Bersalin Desa (Polindes) Kluwut. Jaraknya tidak jauh dari Gapura Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Kluwut, sekira 300 meter ke arah utara.
Di awal berdirinya, warga desa yang mayoritas bermatapencarian sebagai nelayan, tidak langsung menerima keberadaan Rumah Anak SIGAP. Mereka sempat marah ketika anaknya disebut mengalami stunting.
BREAKING NEWS Komandan Damkar Brebes Digigit Kera Peliharaan Warga Hingga Luka 13 Jahitan |
![]() |
---|
Brebes Jadi Pilot Project Penanganan Kusta Nasional, Libatkan Banyak Pihak Target Zero Leprosy 2030 |
![]() |
---|
Warga Desa Kamal Brebes Protes, Tak Pernah Tersentuh Pembangunan Bak Dianaktirikan |
![]() |
---|
Melirik Festival Domba Sakub, Hewan Ternak Asli Brebes Yang Bernilai Rp 30Juta Seekor |
![]() |
---|
Diduga Depresi Karena Sakit Tak Kunjung Sembuh, Petani di Brebes Nekat Mengakhiri Hidupnya |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.