Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tradisi Wilujengan Mitoni di Kudus, Warisan Budaya yang Kian Langka

Tradisi wilujengan mitoni atau tingkeban semakin jarang dilakukan. Keluarga di Kudus masih melestarikannya sebagai bentuk doa dan penghormatan budaya

|
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM/ SAIFUL MASUM
TRADISI TINGKEBAN - Najla Adjani Mahendra melaksanakan prosesi siraman dalam tradisi Wilujengan Mitoni, Rabu (26/2/2025) malam di Puri Dhalem Kalingga Murdho Djati, Blok Kulon, Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Pelaksanaan tradisi budaya Jawa tersebut sebagai ungkapan syukur atas cucu pertama keluarga Kamal Mustofa. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Tradisi wilujengan mitoni atau tingkeban dalam prosesi tujuh bulan kehamilan mulai menghilang seiring perkembangan zaman.

Padahal, mitoni merupakan bagian dari tradisi Jawa yang penuh makna dan doa bagi keselamatan ibu serta bayi dalam kandungan.

Mitoni dilakukan saat usia kehamilan memasuki tujuh bulan sebagai ungkapan syukur dan harapan agar ibu dan bayi selamat hingga persalinan.

Youtube:

Instagram:

Dalam prosesi tingkeban, terdapat beberapa rangkaian ritual, seperti siraman, ganti busana, rujakan, pecah kelapa, hingga pembacaan doa.

Tingkeban dalam tradisi Islam Jawa memiliki makna filosofis yang berakar pada ajaran Islam, mencerminkan doa serta harapan terhadap keselamatan ibu dan bayi.

Meski tradisi tingkeban memadukan budaya Jawa kuno dan Islam, kini semakin sedikit yang melestarikannya.

Salah satu warga Kudus yang masih menjaga tradisi ini adalah keluarga H. Kamal Mustofa.

Pada Rabu (26/2/2025) malam, Kamal Mustofa menggelar Wilujengan Mitoni Najla Adjani Mahendra, yang tengah mengandung tujuh bulan.

Acara yang digelar di Puri Dhalem Kalingga Murdho Djati, Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus ini merupakan bentuk syukur menyambut cucu pertama keluarga tersebut.

Menurut Kamal, tradisi tingkeban tidak hanya sebagai seremoni, tetapi juga penghormatan terhadap budaya leluhur serta doa bagi calon bayi.

"Tradisi mitoni ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga wujud penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun," terangnya.

Tradisi mitoni yang dipandu oleh Pengantin Production pimpinan Ibu Dani Mukti asal Yogyakarta berkolaborasi dengan Max Production Kudus memang mampu menyihir tamu yang hadir.

Mereka seakan terbawa dengan kearifan lokal di setiap prosesi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved