Rabu, 29 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita UMKM

Rajutan Harapan di Tangan Astuti: Dari Benang, Tumbuh Kehidupan

Di tangan Tri Astuti, benang-benang itu bergelut, saling bertautan, membentuk sesuatu yang lebih dari sekadar kain.

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: raka f pujangga
Dok Tri Astuti
TAS RAJUT Asbag - Seorang Model Foto Memamerkan tas rajut AsBag produk buatan Tri Astuti. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pada sebuah rumah yang terletak di jalan Jangli Tlawah, Semarang, Tri Astuti duduk dengan tenang.

Di tangannya, benang-benang itu bergelut, saling bertautan, membentuk sesuatu yang lebih dari sekadar kain.

Tas, dompet, dan berbagai produk yang dia lahirkan bukan hanya hasil rajutan semata.

Mereka adalah kisah hidup tentang ketekunan, perjuangan, dan harapan yang bertumbuh dari tangan yang penuh kasih.

Pada 2012, Tri Astuti mungkin tidak pernah membayangkan bahwa merajut, sebuah kegiatan yang dulu hanya iseng dilakukan di waktu senggang, akan membawanya ke sebuah dunia baru.

Baca juga: ASbag Produk Tas Rajut Asli Semarang Tembus Pasar Internasional, Berawal dari Hobi

Dunia di mana ekonomi lokal bisa dipertahankan oleh tangan-tangan kecil para perempuan di kawasan itu. Meski dari hobi, dalam prosesnya, hobi itu bertransformasi menjadi ladang rezeki yang menghidupi banyak orang.

Pada 2014, sebuah kesempatan datang. Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang membuka pintu yang tak pernah diduga akan terbuka.

Pameran-pameran yang memamerkan karya Tri Astuti menjadi titik balik. Karya yang dulu hanya dinikmati di lingkungan sekitarnya kini dilihat oleh banyak mata. 

Tri Astuti berangkat ke berbagai pameran yang terletak di beberapa titik di Indonesia. Dari situ dia menyadari pentingnya nama pada sebuah produk.

Dia menuliskan ASBAG Indonesia sebagai merek dagang yang lebih dari sekadar nama, namun adalah simbol dari perjuangan yang tak tampak.

Perjuangan itu tidak datang dengan mudah. Seperti benang yang harus ditarik dan dikelola dengan hati-hati, begitu pula usahanya. 

"Dari tahun 2014 itu pameran difasilitasi oleh Dinas saya ikuti, bahkan yang berbayar juga saya ikuti," tutur Tri Astuti, dengan nada yang begitu sederhana, namun sarat makna, dikutip Tribunjateng, Kamis (10/4/2025).

"Karena pameran ini jadi kesempatan," sambungnya.

Tentu dari tahun 2014, Tri Astuti berinovasi selayaknya bernafas, terus menerus dia lakukan untuk meluncurkan produk baru dengan beragam model yang memikat mata.

Tentunya setiap model baru yang lahir diperlukan penunjang modal agar inovasi Tri Astuti tak mandek. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved