Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Banyumas

Menjamurnya Tongkrongan Gen Z di Purwokerto, Wujud Budaya Konsumerisme dan Isu Mental Health

Muda-mudi larut dalam segelas kopi duduk di kursi kecil dengan posisi melingkar bersama kawan-kawannya. 

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG/Permata Putra Sejati
TONGKRONGAN MALAM - Suasana anak muda di Purwokerto yang asik nongkrong di salah satu spot di dekat Kebondalem, Selasa (15/4/2025) malam. Akademisi dan Sosiolog Fisip Unsoed, Tyas Retno Wulan berpandangan masyarakat urban seperti di Purwokerto butuh yang namanya ruang berekspresi dan eksistensi diri. 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Muda-mudi larut dalam segelas kopi duduk di kursi kecil dengan posisi melingkar bersama kawan-kawannya. 


Entah apa yang dibicarakan tapi mereka begitu asik sambil menghisap sebatang rokok. 


Beginilah malamnya Purwokerto kini, setiap sudutnya jadi tempat nongkrong anak muda kekinian. 


Warung kopi jalanan menyajikan ruang berkumpul dengan kenyamanannya tersendiri bagi mereka. 


Bukan hanya yang berasal dari kantong pas-pasan saja, yang memakai mobil pun sah-sah saja menikmati nuansa malam di kota satria. 


Tongkrongan anak muda di warung kopi pinggir jalan telah menjadi fenomena yang umum di Indonesia, terutama di kalangan gen Z. 


Maraknya aktivitas ini pun sudah menjadi salah satu kegiatan trend yang sangat disukai para anak muda. 


Meraka dapatkan suasana yang unik dan nyaman sebagai tempat ideal bersantai, bekerja, atau bahkan bertemu dengan teman-teman dan colega. 


Tidak bisa dipungkiri berkembangnya zaman dan dipengaruhi kemajuan teknologi di era globalisasi, menyebabkan banyaknya perubahan yang terjadi.


Banyak dari mereka menghabiskan waktu di perangkat elektronik yaitu bermain game online atau media sosial. 


Ada juga mahasiswa yang mengerjakan skripsi sambil nongki-nongki. 


Akademisi dan Sosiolog Fisip Unsoed, Tyas Retno Wulan berpandangan masyarakat urban seperti di Purwokerto butuh yang namanya ruang berekspresi dan eksistensi diri.


Budaya nongkrong baik itu di coffeshop biasa atau yang berkelas juga tidak lepas dari budaya konsumerisme. 


Kopi yang awalnya harganya Rp2 ribu sampai Rp3 ribu ketika di tempat ruang ekspresi diri maka harganya juga akan naik. 


Di Indonesia kebiasaan nongkrong juga menjadi bagian dari kelas menengah dalam wujud eksistensi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved