Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Banjarnegara

Bangkrut Gegara Ikut Ritual Dukun, Usaha Simun Bersinar Usai Perbaiki Ikhtiar

Simun pernah tak percaya kesuksesan adalah buah dari proses kerja keras. Karenanya, ia yakin ada jalan pintas.

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG/Choirul Muzaki
LAYANI PELANGGAN- Simun memasak mi rebus pesanan pelanggan di warungnya, Desa Kesenet Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, Sabtu (19/4/2025). 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Simun pernah tak percaya kesuksesan adalah buah dari proses kerja keras. Karenanya, ia yakin ada jalan pintas. 


Pertama kali merintis usaha warung nasi goreng di Bandung, 2004 lalu, ia frustasi karena dagangannya selalu sepi. 


Berbanding terbalik dengan temannya, sesama penjual nasi goreng, dimana warungnya selalu ramai diserbu pembeli. Ia penasaran mengapa warung temannya bisa laris. 


Warga Desa Beji Kecamatan Banjarmangu itu memberanikan diri untuk bertanya. Temannya blak-blakan mengaku menggunakan jasa dukun untuk melancarkan usahanya. Simun langsung mencoba mengikuti jejak temannya. Ia pergi ke dukun yang ditunjukkan temannya. 


Simun menghadap sang dukun yang di depannya sudah siap panci tertutup lembar kulit kijang. Aura mistis mulai menyala. Simun ditanya keluh kesahnya. Sambil membaca mantra, sang dukun mulai menerawang. 


“Saat disebut usaha saya nasi goreng, kulit kijang di panci diam saja. Tapi giliran disebut usaha gorengan, kulit itu terangkat. Kesimpulan dukun, berarti saya cocoknya jualan gorengan,”katanya, Sabtu (19/4/2025).


Simun mencoba mengikuti arahan dukunnya. Ia rela menutup usaha nasi goreng yang selama ini ia tekuni, lalu beralih menjual gorengan.  Ia sampai mencari modal tambahan. 


Tapi bukannya untung, saat dipraktikkan, ia malah selalu tombok karena gorengannya tidak laku dijual.   Ia sampai kehabisan modal. Usaha gorengannya pun gulung tikar. 


Ramalan sang dukun ternyata hanya tipuan. Namun Simun belum putus asa percaya paranormal. Ia masih berusaha mencari dukun lain yang lebih sakti. 


Hingga ia menemukan dukun Jawa di lereng gunung terpencil Banjarnegara


Sang dukun memberikan syarat dan ritual agar usahanya lancar. Ia harus mencampur makanan yang dia jual dengan kemenyan. 


Simun juga wajib melakukan ritual. Ia harus menyalakan dupa sebelum berangkat jualan. Dupa yang ditaruh di gerobak harus ditunggu sampai mati,  baru ia boleh jalan. 


Simun menurutinya. Apapun akan dia lakukan asal bisa cepat sukses dan kaya. Saat teman-temannya sudah berkeliling jualan, Simun masih belum beranjak dengan gerobaknya. Ia menghadap dupa sampai nyalanya padam. 


Ia menghabiskan beberapa waktu hanya untuk menyelesaikan ritual sebelum berangkat dagang. 


Alih-alih omzetnya meningkat, dagangan Simun semakin sepi karena telat berangkat. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved