Berita Banyumas
Kondisi Disabilitas dan Sakit Tak Mengurangi Semangat Peserta UTBK di Unsoed
Mata Edi Munif (56) berkaca-kaca tak kuasa menahan haru melihat anaknya terlihat lunglai tak berdaya
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Mata Edi Munif (56) berkaca-kaca tak kuasa menahan haru melihat anaknya terlihat lunglai tak berdaya saat sedang menjalankan tes Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di laboratorium riset, Unsoed.
Anaknya, Safira Sifa Nazahra yang sudah masuk ruangan ujian terpaksa dikeluarkan karena menunjukan gejala mual terus menerus.
Semangat juang para peserta memang patut diapresiasi terutama yang mengalami kondisi disabilitas dan sakit.
"Selama ini anak saya tidak pernah sakit. Mungkin kecapean berangkat kesorean, belum mau makan.
Udah diingetin tapi tidak mau, dipaksa makan, baru mau pesan makan sudah mual lagi, mau cari penginapan juga tidak mau," katanya.
Ia mengatakan anaknya itu sudah tidak kuat jalan dan hanya tidur di mobil.
"Setelah solat subuh langsung ambruk. Kalo capek mudah lemas, terlambat makan mudah ambruk," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Senin (28/4/2025).
Ia mengatakan terkait kondisi anaknya itu belum sempat diperiksakan ke dokter dan hanya mengkonsumsi paracetamol.
"Sudah muntah dari maghrib, ibunya sudah berpesan supaya semangat jangan takut kalau tidak lulus yang penting udah usaha," terangnya.
Safira Sifa Nazahra rencananya mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat Unsoed.
Tim Dokter dari Unsoed, yaitu Dr. Mustofa mengatakan kondisi dari Safira lemah, tekanan darah lemah, gula darah menurun, asupan makan kurang.
Adapun penangananya adalah dengan memberikan tempat ujian yang lebih longgar, minum gula dan untuk mengurangi mual dan pusing.
"Pesan saya kalau fisik kurang fit, akan dipisah dari peserta lain.
Kejadian ini adalah kedua kali kemungkinan Maag kambuh. Tipsnya jaga kondisi istirahat yang cukup," imbuhnya.
Kondisi berbeda dialami oleh Audriel Putri Setiawan seorang peserta UTBK yang mengalami disabilitas yaitu tuna rungu.
Ia yang berasal dari Kebumen ingin mendaftar ke Ilmu Administrasi Negara, Universitas Negeri Sebelas Maret.
Ia bercerita kalau kondisi susah mendengar dialamani sejak masih sekolah dasar.
Waktu kecil tanda-tanda susah mendengar ditandai ketika mendengarkan guru di kelas kurang jelas.
"Jarak dekat masih dengar, caranya seperti membaca gerakan bibir. Kalau mendengar instruksi dari pengawas kurang terdengar dan pernah dibully waktu sekolah," katanya.
Untuk tes UTBK kali ini ia mengaku tidak pakai alat bantu.
Terkait pnyebabnya tidak tau kenapa karena sejak kecil tiba-tiba jadi kurang bisa mendengar.
"Awalnya sering dibully, tapi kesini-kesini sudah tidak lagi.
Audriel yang merupakan peserta asal Kebumen dari SMA N 1 Ayah tersebut sempat merasa malu dan insecure.
"Sempet insecure, karena minder dengan menggunakan alat bantu pendengaran. Sebenarnya dengar tapi kaya lirih banget. Jadi kalau orang lain ngomong kudu diperhatikan banget," terangnya.
Ia juga mengeluh bahwa kalau pakai alat bantu dengar lama-lama bikin pusing juga.
"Pakai alat sejak SMP dari SD sudah ada tanda-tandanya.
Terdeteksi dari keluarga sejak kecil sebenarnya," katanya. (jti)
Polresta Banyumas dan PWI Tanam Pohon di Kalipagu, Dorong Gerakan Sedekah Oksigen |
![]() |
---|
Cuaca Masih Labil, Warga Banyumas Diminta Waspada Hujan Sedang-Lebat hingga Akhir Agustus |
![]() |
---|
Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Profesor, Unsoed Telah Rekomendasikan Sanksi ke Kemdiktisaintek |
![]() |
---|
Sudah Dibuka Sejak Sabtu, Segini Tarif Parkir Resmi di Kolam Retensi Purwokerto |
![]() |
---|
Api Lahap 3 Rumah dan 3 Kendaraan di Candinegara Banyumas, Korsleting Diduga Jadi Penyebab Kebakaran |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.