Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Banyumas

Pemikiran RM Margono Djojohadikusumo dan Wacana Launching Koperasi Merah Putih di Banyumas

Launching Koperasi Desa Merah Putih bertepatan pada Hari Koperasi Nasional, dan wacanaya akan dipusatkan di Kabupaten Banyumas se-Indonesia.

Ist. Dokumentasi Satria Praja Banyumas
RAPAT BERSAMA, Paguyuban Kepala Desa Satria Praja Kabupaten Banyumas yang bersepakat dengan dibentuknya Koperasi Desa Merah Putih Di Warung Dermaga Tambak Negara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Rabu (23/4/2025). Atas rencana program tersebut, Paguyuban kelapa desa Satria Praja Kabupaten Banyumas siap menjalankan koperasi desa merah putih. Ist. Dokumentasi Satria Praja Banyumas. 

Namun sayangnya inisiatif Wiryaatmadja tersebut dilarang karena dianggap uang kas masjid mestinya hanya digunakan untuk keperluan masjid. 

Prof. Sugeng mengatakan konsep antara kredit rakyat dan Koperasi dianggap sering tumpang tindih. 

Dengan adanya kredit rakyat kaum pribumi memiliki kecenderungan kesulitan dalam mencicil. 

Berbeda halnya dengan kalangan kaum priyayi yang dilatarbelakangi gengsi tinggi yang dapat lancar dalam membayar. 

"Jaman dulu ada semacam budaya atau tradisi apabila rakyat punya hajatan sampai berhari-hari bisa 3 atau 4 hari, rakyat akan berhutang," katanya. 

Melihat kondisi kesusahan rakyat dalam perkreditan, Margono yang saat itu bekerja di Volkscreditbank (jawatan koperasi pada masa Hindia Belanda) menginisiasi sistem kredit kerakyatan terutama bagi para petani. 

Bisa dikatakan kredit peminjaman dalam konsep Margono adalah lebih memihak rakyat yang kala itu susah. 

"Tapi dulu dalam bentuk kredit lunak, contohnya untuk beli pupuk dipinjemi nanti membayar setelah panen," jelasnya. 

Hal itu tidak heran karena ayah dari RM Margono adalah Mandor Irigasi Pertanian yang kaitannya dengan ketahanan pangan. 

Pada waktu itu ekonomi rakyat masih dalam bentuk sederhana, tidak seperti sekarang yang banyak dalam bentuk usaha. 

RM Margono Djojohadikusumo kemudian pindah ke Batavia atau Jakarta. 

Dia kemudian sempat dikirim ke Belanda dan belajar kursus tentang koperasi dan menjadi pegawai di negeri jajahan. 

Menurut Prof Sugeng di Belanda sudah dijalankan apa itu yang namanya Volkscreditbank. 

Margono juga sempat menjadi pamong praja atau juru tulis. 

Hal itulah yang menjadikan dia punya pengaruh besar. Dia dapat menulis dengan baik. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved